Tuduhan Plagiarism Terhadap Afi, Dipatahkan Guru Besar UI

1
327

Beberapa hari ini dunia maya kita geger dengan tulisan Afi Nihaya Faradisa dengan judul Warisan. Opini di facebook yang mendapat puluhan ribuan share tersebut mendapat pujian dari banyak kalangan, namun juga tidak sedikit yang menggunjingnya. Beberapa hari belakangan ini pun media sosial kembali geger oleh tulisan Afi yang berjudul “Belas Kasih dalam Agama Kita”.

Kegegeran yang kedua tersebut dikarenakan banyaknya orang yang menganggap tulisan berjudul “Belas Kasih dalam Agama Kita” ini plagiat dari tulisan serupa dari seseorang yang memiliki akun Facebook yang bernama Mita Handayani. Lalu, benarkah Afi melakukan plagiarisme?

Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali menuturkan plagiat atau tidak, hanya berlaku untuk karya ilmiah. Sepanjang kata-kata atau tulisan merupakan pendapat umum, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai plagiarisme.

“Sebagai contoh saya mengambil kata-kata populer dari Aa Gym yaitu ‘perubahan harus dimulai dari diri sendiri’. Kalau ada yang usil, bisa saja dipersoalkan itu adalah kutipan dari John Maxwell. Namun si pemilik kutipan asli tidak mempermasalahkan dan sekarang kutipan tersebut terkenal sebagai kutipannya Aa Gym, dan bukan merupakan plagiarisme,” ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (1/6/2017).

Rhenald juga mencontohkan, pernah ada seorang mahasiswa pascasarjananya menulis di koran umum dengan tema mengenai Dutch Desease atau “penyakit Belanda”. Tulisan tersebut mengupas soal perekonomian Belanda yang turun justru ketika negara itu menemukan minyak.

Setelah artikel tersebut terbit, seorang ekonom Lin Che Wei melayangkan protes keras ke Rhenald Kasali selaku kepala program pascasarjana UI. Itu lantaran tulisan mahasiswa tersebut sebagian besar persis dengan artikel yang pernah ditulis Lin Che Wei.

Selanjutnya pihak kampus memanggil mahasiswa yang bersangkutan untuk menjelaskan artikel yang ditulisnya itu.

“Setelah dipanggil, kami memutuskan bahwa itu bukan plagiat karena yang bersangkutan tidak tahu, dan itu ditulis di koran umum,” jelas Rhenald.

Hal ini berbeda dengan kasus yang pernah terjadi pada Anggito Abimanyu, di mana tulisan yang terbit di Harian Kompas dinyatakan sebagai praktik plagiarisme.

Rhenald menjelaskan, Anggito Abimanyu merupakan salah satu akademisi di perguruan tinggi yang seharusnya paham dengan kaidah-kaidah penulisan. Namun dalam artikel yang ditulisnya, dia tidak menyebutkan sumber data yang dipakai untuk mendukung tulisannya.

“Ini beda karena Pak Anggito adalah akademisi yang seharusnya memahami cara-cara penulisan ilmiah. Tulisan Pak Anggito itu mengambil bahan dari tulisannya Pak Hotbonar Sinaga (mantan Dirut Jamsostek), namun dia tidak menyebutkan sumbernya,” jelas Rhenald.

Menurut Rhenald Kasali, ada proses panjang untuk menentukan sebuah artikel dianggap plagiat atau tidak. Bahkan di ranah akademik, untuk memutuskannya harus melibatkan dewan guru besar dan dalam waktu yang tidak singkat.

Sementara untuk tulisan Afi, hal itu bukanlah tulisan ilmiah dan hanya status di akun Facebook-nya. Oleh karenanya, tulisan tersebut tidak dikategorikan sebagai plagiarisme.

Untuk itu, Rhenald Kasali berpesan untuk tidak terlalu membawa aspek akademis dalam menilai apakah sebuah tulisan umum masuk plagiarisme atau bukan.

Kolom Komentar

comments