Toleransi Sebuah Warisan Sejarah yang Tak Ternilai

0
169
Karikatur Gus Dur
“Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan” – Gus Dur – Credit Image http://kaskus.co.id

Sebagai archipelago state, perbedaan merupakan realitas Bangsa Indonesia. Berbagai suku, etnis, dan agama merupakan kekayaan dan identitas yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya. Sehingga, tidak mengherankan jika masyarakat Indonesia diberi julukan masyarakat  majemuk. Menukil pendapat – Begawan Sosiologi Indonesia, Nasikun (2007) mengungkapkan bahwa kemajemukan masyarakat Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, pertama secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan kedua secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.

Tetapi tidak hanya itu, ciri khas lainnya masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai masyarakat yang ramah, santun, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi akan segala perbedaannya. Bahkan, predikat ramah akan pluralitas dan heterogenitas tersebut telah menjadi teladan kepribadian bangsa kita di kancah dunia internasional.

Namun, dewasa ini predikat tersebut mulai dipertanyakan. Saat ini tidak sedikit kita menjumpai konflik vertikal-horizontal yang bermotif sektarian dan agama yang mengganggu stabilitas integrasi nasional. Celakanya ditengah konflik tersebut ada saja oknum yang bercokol dan memanfaatkannya, sehingga menjadi konflik yang berkepanjangan, kekerasan, hingga potensi radikal. Bahkan, data termutahir dari Wahid Foundation sebagaimana dilansir dalam Tempo.co (2016) menunjukan bahwa masih adanya potensi kelompok radikal di Indonesia, dimana sebanyak 11 juta warga Indonesia berpotensi melakukan kekerasan atas dalih jihad agama.

Belum lagi jika kita kaitkan dengan konstelasi sosial politik belakangan ini, dengan akan dilangsungkannya pilkada serentak, banyak muncul penumpang gelap yang memanfaatkan isu-isu intoleran untuk memperkeruh suasana. Propaganda sosial media, fitnah, ujaran kebencian, dan penyebaran berita hoax bernuasa sektarian dan isu intoleran, terkesan menjadi hal yang lumrah untuk mengadu domba. Herannya hal tersebut amat mudah dikonsumsi oleh masyarakat awam.

Meskipun ada saja yang menganggap hal itu sah dan lumrah sebagai intrik politik. Namun, saya pribadi tidak pernah membenarkan hal tersebut. Stigma negatif sudah terlanjur melekat bagi berbagai kalangan termasuk penulis, bahwa cara-cara yang mengarah pada provokasi SARA merupakan kesalahan besar dan merupakan pola-pola biadab.

Belajar Toleran dari Sejarah

Kontruksi Indonesia yang terdiri dari berbagai entitas yang beragam menjadikan bangsa ini memiliki kedewasaan dalam memegang toleransi dan memandang sebuah perbedaan. Hal ini merupakan realitas sejarah yang tidak dapat dinafikan oleh siapapun. Teladan para tokoh, pahlawan, serta founding fathers menunjukan betapa dewasanya bangsa Indonesia dalam memandang perbedaan.

Salah satu contoh yang paling populis adalah sikap Sunan Kalijaga yang dikenal sangat akomodatif terhadap kebudayaan-kebudayaan bangsa Indonesia. Bahkan, beliau amat dikenal sebagai wali yang kritis, ramah, penuh toleransi, dan visioner. Beliau juga disegani sebagai tokoh yang berhasil melestarikan kebudayaan lokal yang bisa dinikmati hingga saat ini. Hal ini lantaran, Sunan Kalijaga melakukan dakwah penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa dengan pendekatan kultural.

Selain itu, sikap toleran, dalam sejarah Indonesia juga ditunjukan pada zaman kerajaan Hindu-Budha. Contohnya, pada masa kerajaan Majapahit yang menunjukan agama Hindu dan Budha hidup berdampingan secara damai. Bahkan, salah satu wilayah kekuasaan Majapahit yakni Pasai telah memeluk agama Islam. Hal ini menunjukan, toleransi umat beragama dijunjung tinggi oleh kerajaan Majapahit yang memberikan ruang bagi penganut agama lainnya. Selain itu, pada masa ini awal mula lahirnya semboyan bangsa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika yang mengandung arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua karya dari Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma.

Bahkan, di masa awal pembentukan negara Indonesia, terutama sejarah proses lahirnya Philosophiche Grondslag Indonesia (Pancasila) sungguh menunjukan nilai kearifan dalam menghargai berbagai perbedaan. Pada masa itu terjadi tarik-ulur hingga kompromi di antara dua kelompok founding fathers bangsa. Masing-masing, baik kalangan nasionalis sekuler maupun nasionalis muslim memiliki pendapat berkaitan dasar negara Indonesia. Sila pertama Pancasila menjadi hal yang sangat sensitif dibicarakan pada waktu itu. Perbedaan yang mendasar pada waktu itu ialah perbedaan pandangan anggota BPUPKI baik dari Golongan Nasionalis Sekuler yang berpandangan perlu adanya pemisahan berkaitan dengan agama dan negara. Sedangkan, Golongan Nasionalis Muslim berkeinginan bahwa berdirinya negara Indonesia berdasarkan syari’at Islam. Kemudian, dalam sidang ini berbagai tokoh pada waktu itu juga menyampaikan gagasannya berkaitan dengan dasar negara Indonesia mulai dari M. Yamin, Soepomo, hingga Ir. Soekarno.

Setelah melalui tarik ulur yang cukup panjang akhirnya terjadi konsensus besar sejarah Indonesia berkaitan dengan dasar negara yang oleh M. Yamin, kemudian dinamakan Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Namun, dalam hal ini sila pertama masih berbunyi “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”. Walaupun, akhirnya pada sidang PPKI, semua sepakat untuk melegitimasi Pancasila tanpa tendensi pengistimewaan ajaran agama tertentu. Pada waktu itu diawali dengan pengajuan usul yang dilakukan oleh Bung Hatta untuk merubah beberapa hal terkait dengan Mukaddimah (Piagam Jakarta). Usulan Hatta yang berusaha mengakomodir berbagai perbedaan kepercayaan di Indonesia akhirnya dapat diterima oleh kalangan pendiri bangsa lainnya. Sehingga sila pertama pada rumusan Pancasila diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Hal inilah yang selanjutnya menarik dibaca kembali agar setiap Warga Negara Indonesia belajar betapa pentingnya nilai-nilai nasionalisme serta toleransi dalam berbagai entitas kehidupan bernegara.

Toleransi Warisan Sejarah yang Tak Ternilai Harganya

Beberapa realitas sejarah tersebut dapat menjadi pembelajaran yang menarik dalam memahami sebuah perbedaan. Utamanya bagi generasi muda yang merupakan pewaris sah peradaban bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan para founding fathers Indonesia telah mewariskan sebuah situasi yang amat demokratis, toleran, serta penuh rasa saling menghormati dan menghargai dalam proses pembentukan Indonesia merdeka. Meskipun para founding fathers melakukan perdebatan-perdebatan dan pemufakatan saat sidang BPUPKI-PPKI, memproklamasikan kemerdekaan, hingga proses pengesahaan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945, mereka tetap bersatu dalam perbedaan pendapat.

Sebuah warisan sejarah yang sederhana namun penuh makna, berupa rasa toleransi, saling menghormati, dan menghargai yang sungguh tidak ternilai harganya. Sebuah pemahaman besar tentang bangsa Indonesia yang dibangun atas perbedaan dan semangat pantang menyerah para pejuang bangsa. Sebuah perjuangan yang tidak pernah mengatasnamakan agama, ras, dan etnis tertentu. Bahkan, para pendiri bangsa ini tidak pernah berfikir untuk memporak-porandakan serta memecah belah negara tercinta ini demi sebuah kepentingan golongan tertentu saja. Akhirnya, mari terus jaga warisan sejarah ini. Wahai para pewaris sah perjuangan bumi pertiwi Indonesia, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi.

Kolom Komentar

comments