Tolak Penutupan Jurusannya, Ratusan Mahasiswa PGSD-Tegal Adakan Aksi di Unnes

2
1128

Ratusan Mahasiswa PGSD-Tegal Adakan Aksi – Semarang, Jumat, 07 April 2017. Ratusan mahasiswa jurusan PGSD-Tegal adakan aksi di kampus Universitas Negeri Semarang Sekaran. Aksi tersebut dilakukan atas buntut dari kebijakan kampus yang akan menutup jurusan PGSD Tegal mulai tahun 2017. Terbukti, untuk saat ini program studi yang ditawarkan Unnes dalam SNPMPTN 2017, PGSD UPP Tegal tidak akan ditemukan lagi.

Lihat : Foto Aksi Mahasiswa PGSD Tegal Unnes Menolak Penutupan Jurusannya

Unnes memutuskan tidak akan menerima mahasiswa baru untuk kampus Tegal per tahun 2017. Kedepannya seluruh kegiatan pengajaran akan dilaksanakan di PGSD-Ngaliyan, Semarang. Ternyata, kebijakan tersebut memunculkan polemik pro-kontra diantara mahasiswa.

Ada beberapa alasan yang mendasari birokrasi Unnes menutup PGSD Tegal. Pertama, kebijakan tersebut dilandasi semangat untuk meningkatkan kulitas guru pada masa depan. Profil guru masa depan. Hal itu didasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, khususnya pasal 10 ayat (1).
 
Agar menghasilkan guru dengan profil ideal sperti diamanahkan Undang-Undang, UNNES sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) harus memiliki fasilitas pendidikan yang baik dan terstandar.
 
Di sisi lain, kondisi riil saat ini menunjukkan bahwa fasilitas lingkungan PGSD Tegal belum terpenuhi. Dengan luas tanah yang terbatas, pengembangan fasilitas yang terstandar di kampus tersebut sulit terpenuhi.
 
Alasan kedua, paralel dengan landasan pertama, Permenristekdikti Nomor 1 Tahun 2017 tentang Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Pasal 2 ayat (2) mengatur bahwa penutupan PSDKU bertujuan melindungi masyarakat dari kerugian akibat memperoleh layanan tinggi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang tidak bermutu.
 
Melihat kondisi riil di lapangan yang menunjukkan fasilitas PGSD Tegal belum sesuai dengan profil lembaga pendidikan yang ideal masa depan, kedepannya pendidikan PGSD Unnes akan difokuskan di PGSD Kampus Ngaliyan. Di kampus Ngaliyan sendiri fasilitas yang tersedia jauh lebih baik, antara lain ditandai dengan tersedianya asrama dan ruang perkuliahan yang representatif.
Rektor menjelaskan bahwa UNNES tidak menutup Prodi PGSD, melainkan mengurangi kuota penerimaan. Sebab riilnya, dalam penerimaan tahun 2017 program studi tersebut tetap dibuka. Hanya saja, mahasiswa baru 2017 akan menempuh pendidikan di kampus PGSD Ngaliyan.
Sebagai konskuensi atas kebijakan tersebut, Rektor menjamin bahwa layanan pendidikan kepada mahasiswa PGSD Tegal tetap akan diberikan sebagaimana biasanya hingga mahasiswa lulus.
Sebenarnya, audiensi pernah dilakukan. Audiensi yang dilakukan di kampus Unnes Sekaran tersebut diwakili oleh perwakilan mahasiswa PGSD Tegal. Mereka juga didampingi fungsionaris Badan Eksekutif Mahasiswa. Pertemuan itu tampaknya belum memuaskan mahasiswa. Mahasiswa menganggap audiensi itu sangat terbatas. Padahal di UPP Tegal, ada lebih dari 600 mahasiswa.
Akhirnya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa yang dikomandani Presma BEM KM, Mohamad Adib dan bidang Kemahasiswaan Unnes, menyelenggarakan dialog di PGSD Tegal.
Dialog yang dilaksankan pada Rabu 5 April 2017 tersebut diikuti oleh Rektor bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dekan FIP Prof Fakhrudin, dan Kaprodi PGSD. Mahasiswa PGSD Tegal didampingi sejumlah fungsioanaris BEM KM. Dialog di moderatori langsung oleh Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Universitas Negeri Semarang, Bambang Budi Raharjo.
Beberapa Mahasiswa PGSD Tegal pun mempertanyakan terkait Penutupan PGSD Tegal, sekaligus membeberkan hasil kajian yang telah dilakukan. Beberapa Mahasiswi yang mempertanyakan alasan kenapa pengelola kampus menutup PGSD Tegal sambil menangis.
Dari audiensi siang itupun Rektor Universitas Negeri Semarang menyepakati bahwasannya PGSD Tegal akan dibukakan kuota namun dengan syarat Mahasiswa harus mencarikan beasiswa 50 dari 160 Mahasiswa Baru 2017. Mahasiswa mengganggap ini merupakan ketidakberesan birokrasi dalam mengelola kampus, dan malah melempar tanggung jawab pengelola atas tugas, pokok, dan fungsi pengelola kepada mahasiswa.
Buntut dari polemik panjang tersebut. Ratusan mahasiswa PGSD Tegal yang dibersamai beberapa elemen kampus serta sarekat diskusi dan literasi mahasiswa yang ada di Universitas Negeri Semarang mengadakan aksi. Tuntutan mereka adalah membatalkan penutupan PGSD Tegal untuk tahun 2017.

 

Kolom Komentar

comments