Tiga Koreksi Kyai NU untuk Tulisan “Warisan” Afi Nihaya Faradisa

0
1029
SURAT TERBUKA UNTUK AFI NIHAYA FARADISA
Pengirim: Kyai Zahro Wardi
(Alumni PP LIRBOYO Kediri, Tokoh NU dan Nasionalis sejati)
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sebelumnya Acungan jempol 10 jari untuk adik Afi yang sekarang jadi remaja terkenal dan sukses. Kesuksesan dan ketenaran buah dari aktif menulis di Facebook tentang pluralisme, nasionalisme dan sosial-agama dan tentu yg fenomenal adalah tulisan berjudul “warisan”. Penghargaan silih berganti telah diberikan baik oleh pejabat, politisi, stasiun-stasiun telivisi maupun kalangan akademisi. Bahkan bapak presiden juga memberi apresiasi.
Setelah konon tidak kurang dari 20.000 orang yang membagikan maupun yang menanggapi tulisan tersebut,
Izinkan aku yang sama sekali bukan siapa-siapa ini menilai “Warisan” dari sudut pandang Agama Islam (baca:fiqh). Dan tentu saja tidak menutup kemungkinan ada penilaian dan pemahaman yang salah. Dan bila itu terjadi mohon dikoreksi.
Begini Adik Afi…. (yang selanjutnya saya menyebut Si Penulis)….
Dari isi tulisan yg berjudul “Warisan” paling tidak ada 3 Poin yang perlu kita diskusikan:
PERTAMA, Keberhasilan pembentukan opini tulisan ini nampaknya melampaui tujuan si penulis. Dimana tujuan awal pesan yang disampaikan dalam tulisan ini adalah agar kita selalu saling menjaga keberagaman dan mempertahankan keutuhan NKRI. Namun disadari atau tidak uraian-uraian yang penulis sampaikan sudah mengarah ke wilayah ranah aqidah. Ini bagus dan sah-sah saja. Hanya saja “mengesankan” ke-islaman dan ke-imanan seseorang sebagai warisan dan faktor lingkungan adalah terlalu “dangkal”. Padahal yang paling menentukan keimanan seseorang adalah “Hidayah” dari-Nya. Kalau benar islam dan iman itu adalah warisan tentu islam tidak akan berkembang di tengah-tengah penduduk Atheisme dan Animisme (Arab) saat itu. Islam sulit berkembang di hegemoni hindu budha di Jawa. Abu Jahal dan Abu Lahab paman Nabi, Kan’an Putra Nabi Nuh tentu jadi Mukmin. Asiyah istri Firaun tentu akan hilang ke imananya. Di desaku ada 10 Orang (penduduk asli) beragama kristen dari 7500 jumlah penduduk yg semua beragama islam. Keluarga Jamal mirdad Lidia Kandaw, keluarga besar Hari Tanu adalah contoh keluarga multi agama. Jadi sekali lagi ke-imanan seseorang adalah urusan “hidayah” dan kemauan berfikir dg benar (baca: ikhtiyar) dari yg bersangkutan, bukan warisan, lingkungan, apalagi kebetulan.
KEDUA, Sebenarnya dalam menulis si penulis Memposisikan diri sebagai “Siapa”?? Bila ia memposisikan sebagai penganut agama islam, dan ia berkeyakinan semua agama adalah benar, tentu ini kesalahan fatal. Mestinya kebenaran agama tidak mengenal “Perselingkuhan” maupun “Poligami”. Sebab ketika seseorang menilai semua agama benar, sementara ia adalah penganut salah satunya maka sesungguhnya ia tidak meyakini bahwa agamanya-lah satu-satunya yang benar dan harus dianutnya. Allah Maha Esa tidak boleh diduakan. Nabi Muhammad merupakan nabi terakhir dan tidak boleh ada nabi lain sebagai panutan. Kitab Al-quran sebagai pegangan bukan yang lain.
Agama berkaitan dengan keimanan, dan pilihan mana agama yg diyakini kebenaranya.
Berikutnya, bila penulis memposisikan sebagai “Wasit atau Hakim”, dasar apa yg dibuat sehingga menilai semua agama benar??
Bolehkah ia memposiskan diri sebagai “Wasit Netral” sementara ia mengaku penganut agama tertentu??
Kalau ini dibenarkan tentu penulis menerapkan standar ganda dalam hal ini. Satu sisi dalam tulisannya ia melarang orang beragama berkeyakinan hanya agamanya lah yang benar dan bisa membawanya masuk surga, sementara ia juga membuat keyakinan yang lain bahwa semua agama adalah benar dan bisa membawa pemeluk agama apapun bisa masuk surga.
Dalam tulisannya penulis mengambil kata-kata Mutiara seorang Sufi besar Jalaludin ar-Rumi tentang subyektifitas kebenaran. Tapi seharusnya tdk digunakan hujjah untuk pembenaran bahwa semua agama adalah benar. Sebab beliau tidak berpendapat seperti itu. Bahkan sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui. Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan agama islam, bisa menjadi goyah.
KETIGA, yang perlu difahami dan diyakini adalah bahwa memang benar Allah menciptakan dan menjaga segala hal didunia ini agar makhluknya punya kebebasan memilih. Akan tetapi bukan berarti semua yg dipersilahkan untuk dipilih itu baik dan benar. Semua ada konsekuensinya, ada balasannya, baik memilih yang buruk maupun yang baik. Dengan sifat “Rahmatnya” Allah telah mengutus Nabi dengan kitab sucinya untuk menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk. Sesuatu yang salah dan buruk tidak hanya diukur dengan akal manusia, akan tetapi lewat ketetapanNya. Sekalipun kadang hal tsb tdk mengganggu yg lain, sekalipun pula diyakini benar oleh pelakunya. Mengatakan bahwa Allah-lah yang menciptakan dan memelihara kelangsungan agama Islam, Hindu, Budha, Katolik, Protestan, Sinto, Konghuchu dll, sehingga hal ini menunjuk kan semua adalah benar dan boleh dipilih, sama artinya jika ia mengatakan bahwa semua makanan, minuman dan jenis aktifitas yang oleh Allah di jaga keberadaanya sampai saat ini adalah halal dan boleh dipilih sesuai keyakinan masing-masing. Jadi silahkan makan daging babi bila keyakinan anda itu halal. Silahkan berzina, jadi PSK dan penjudi bila menurut keyakinan anda itu benar. Bukankah kebenaran itu relatif?? Bukankah hal-hal di atas tidak mengganggu orang lain?? Bukankah tidak semua UU yg dibuat manusia melarang hal-hal diatas??
Nah, natijah-natijah (kesimpulan) seperti itu kan menyesatkan.
Saya khawatir, dengan tulisan si penulis seperti itu akan banyak orang akan ragu akan kebenaran agama yg selama ini diyakini dan dianutnya. Akan banyak orang bergonta ganti agama sebab semua benar dan menjanjikan keselamatan dunia dan akhirat. Na’udzubillah min dzalik…..
So, inilah pentingnya fanatisme beragama dan berakidah.
Memang benar saling menghormati antar pemeluk agama adalah keniscayaan. Menjaga empat pilar Bangsa: NKRI, UUD 45, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah kewajiban.
Adik Afi…..
Saya adalah warga nahdliyin tulen. Diberbagai kesempatan saya juga berusaha me-Nusantarakan Islam dan menanamkan Islam Nusantara. Sebab kita lahir dan hidup dibumi Nusantara. Nilai-nilai islam harus kita bumikan di sini dengan tetap menjaga rasa Nusantara, bukan rasa Arab.
Namun, tidak harus dengan mencampur aduk kan keyakinan dalam beragama.
Teruslah berkarya lewat penamu. Tanamkan jiwa Nasionalisme pada para anak Bangsa yg kini mulai pudar, mumpung kini Kau jadi idola dan ikon 500 ribu lebih yang aktif membaca tulisanmu. Semoga NKRI tetap jaya dalam ke-Bhinekaanya yg religi dan naungan Rahmat Alloh SWT. Amiin..
Semoga tulisan ini ada yg bisa menyampaikan ke Adik Afi…. Sehingga menjadi masukan yg bernilai. Semoga…..
Wassalamu’alaikum Wr. wb.
(3 Juni 2017, Kyai Zahro Wardi, Trenggalek).
Sumber : Akun Facebook Zahro Wardi
Editor : Tim Ngopie.com

Kolom Komentar

comments