Menelisik Soeharto, Prabowo, Tommy, Sampai Pilpres 2019 Mendatang

0
100

Soeharto, Prabowo, Tommy, Sampai Pilpres 2019 – Suatu hari nanti pasti akan ada orang yang akan membangkitkan ruh Soeharto. Karena semua orang tahu, kekuasaan itu manis rasanya, siapa pula yang tak ingin memegang tampuk kendalinya (lagi).

Beberapa tahun belakangan ini, Soeharto mulai kembali lagi dengan wujud-wujud baru. Hal paling sederhana ialah kehadirannya di bak-bak truk. “Pie, enak zamanku tho?” Provokasi tersebut merupakan legitimasi yang bertujuan mencuci dosa-dosa besar di masa silam. Secara perlahan pula mereka menanamkan bahwa apa saja di zaman Soeharto merupakan murah. Murahnya bahan pokok, bbm, kemudian kemudahan merintis usaha, mereka mengatakannya dengan penuh kerinduan. Walau mereka sangat naif ketika menyembunyikan betapa murahnya harga nyawa rakyatnya.

Orang terbiasa mengingat beberapa hal sambil melupakan lainnya. Bagaimana kaum muslim diberondong peluru dalam insiden Tanjung Priok (1994), dibakar hidup-hidup dalam insiden Talang Sari (1991), dibunuh disiksa dan diperkosa selama pemberlakuan Daerah Operasi Militer di Aceh (1988-1998), dan beberapa dosa-dosa besar lainnya. Semua seakan cuma isapan jempol pasca-1998. Apalagi pasca haul Soeharto yang diadakan 11 Maret 2017 lalu, dimana mendatangkan ulama-ulama yang “mahsyur”, seakan semua dosa itu terhilangkan dalam semalam, dan Soeharto menjadi suci kembali.

Dalam kampanye terbuka Anies Sandi, dengan lantang Prabowo mengatakan. “Kalau ingin Prabowo jadi presiden 2019, maka pilihlah Anies-Sandi.” Himbauan tersebut merupakan kode keras bagi rakyat Indonesia, bahwa 2019 nanti Prabowo akan ikut peruntungan (kembali) di pemilihan presiden. Dan dengan kemenangan Anies-Sandi di Provinsi merupakan satu langkah awal kemenangan pilpres 2019, mengingat Jakarta sebagai ibukota negara.

Sebenarnya terlalu dini untuk mencocokkan Prabowo dengan Tommy, apalagi background mereka berbeda. Tapi, bukankah dalam menuju kekuasaan perbedaan hanya masalah diujung jari. Ya, semua kemungkinan bisa terjadi. Bisa mereka berpasangan, bisa pula mereka mengikuti pertaruhan adu bebas dengan petahana, Jokowi.

Akan tetapi memunculkan Tommy untuk perebutan kursi pilpres 2019 bukanlah hal yang mengada-ada. Semua alur pembentukan stigma “kangen” dengan Soeharto sudah dilakukan jauh-jauh hari. Dari Penak Zamanku Tho?, lalu memunculkan bahaya PKI. Membentuk stigma takut bahwa PKI telah bangkit merupakan cara yang paling ampuh. Satu-satunya lawan mumpuni yang sudah nyata adalah Soeharto, dan sejarah telah membuktikannya. Akan tetapi Soeharto telah meningal, dan wujud untuk mempresentasi kehadirannya adalah dengan menggunakan Soeharto muda, yaitu Tommy Soeharto.

Sangkaan bahwa Tommy akan maju di pilpres 2019 juga dikuatkan oleh Sekretaris Jenderal Partai Swara Rakyat Indonesia atau Parsindo Ahmad Hadari, yang mengatakan partainya telah mendapat restu untuk mengusung Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) – putra bekas Presiden Soeharto, sebagai calon presiden pada pemilu 2019. Partai yang sedang menjalani verifikasi faktual di Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut juga telah berkomunikasi dengan Partai Berkarya, yang sama-sama mengusung Tommy Soeharto.

Pemilihan presiden masih dua tahun lagi, bukan tak mungkin lobby-lobby sudah mulai dilakukan dari detik ini. Yang pasti mereka yang berniat menantang Jokowi, harus mempunyai kemampuan yang mumpuni, apalagi sejauh ini Jokowi memainkan peran dan tanggungjawabnya sangat baik.

 

Baca opini progressif lain di rubrik SERIUS, atau artikel menarik dari Faro Sabani lainnya.

Kolom Komentar

comments