Semarang dan Nilai Toleransi

0
61

Semarang dan Nilai Toleransi, Cinta Kasih adalah Agama Saya – Dalai Lama – Ketika kita menginjakan kaki dan berkeliling di Kota Semarang, maka kita terasa kembali bernostalgia dengan masa lalu. Romansa sejarah yang begitu kuat dan mengakar mampu merasuki setiap orang yang sedang berkunjung ke Kota Semarang. Banyak bangunan kuno yang menjadi saksi bisu sebuah peradaban yang pernah terbangun di kota ini. Semarang tidak hanya bercerita tentang Lawang Sewu yang dulu merupakan sebuah kantor Djawatan Kereta Api pertama di Indonesia yang konon angker dan mistis atau tugu muda yang bercerita tentang simbol semangat patriotisme pemuda semarang mempertahankan kemerdekaan dengan melakukan perlawanan kepada kaum kolonialisme yang biasa disebut pertempuran lima hari. Namun, bukan hanya itu saja Semarang juga bercerita tentang sebuah nilai toleransi yang begitu tinggi antar umat beragama.

Agama sebagai keyakinan tentu menjadi hak setiap warga negara yang dijamin UUD 1945. Setiap warga negara bebas untuk menentukan dan memilih keyakinanya tanpa paksaan dan ancaman. Islam sebagai agama mayoritas warga Semarang tumbuh, berkembang, dan mempunyai sejarah panjang. Kita sering mendengar tentang cerita Kyai Ageng Pandanarang sebagai tokoh penyebar agama Islam di Semarang yang juga menjadi bupati Semarang pertama dan menandai cikal bakal Kota Semarang. Atau mendengar cerita tentang Soen An Ing yang biasa dikenal oleh warga Semarang sebagai Sunan Kuning yang juga tokoh penyebar agama Islam di Semarang dan merupakan warga keturunan Tionghoa. Selain itu pula, pasti kita sudah mendengar cerita tentang Laksamana Agung keturunan Persia sebagai panglima utusan dari negeri tirai bambu Cheng Ho yang beragama Islam dan berlabuh di pulau jawa pertama kali adalah di Kota Semarang sekaligus menyebarkan agama Islam. Simbol kebesaran Islam bisa kita jumpai di sudut-sudut Kota Semarang seperti Masjid Agung Jawa Tengah yang bangunanya mirip dengan arsitek Masjid khas Timur Tengah, Masjid Raya Baiturrahman di kawasan Simpang lima dan Masjid Kauman terletak tidak jauh dari kompleks pecinan Semarang dan pasar Johar yang bangunanya kental sekali dengan bangunan jawa.

Ketika kita berkunjung ke daerah kota lama di sebelah timur Kota Semarang maka kita akan melihat sebuah bangunan yang unik dan bernuansa eropa berkubah bulat. Ya, itulah sebuah gereja tua yang dibangun pada tahun 1753 oleh arsitek Belanda yang biasa disebut Gereja Blenduk oleh orang Jawa karena terlihat seperti menggelembung (mblenduk). Gereja tua tersebut sampai sekarang masih aktif sebagai tempat ibadah umat Kristiani dan juga sebagai ikon wisata Kota Semarang. Gereja ini terletak di kawasan kota lama dekat dengan pasar Johar dan kantor Pos Besar. Pasar Johar merupakan pasar yang sudah cukup tua dan mempunyai sejarah panjang dan dibangun pada masa pemerintahan kolonial serta pernah mendapat predikat sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara. Gereja yang menyimpan nilai sejarah panjang juga terdapat di gereja Katederal Semarang yang terletak dekat dengan Lawang Sewu dan Tugu Muda. Simbol gereja ini menandakan perkembangan umat kristiani di Kota Semarang.

Selanjutnya adalah simbol kebesaran agama Hindu yang ada di Semarang terdapat di Pura Agung Girinatha. Ketika anda berada di Semarang dan ingin merasakan suasana di Bali maka datanglah ke Pura Agung Girinatha yang terletak di wilayah Gajahmungkur. Dari Pura ini kita juga bisa melihat pemandangan Kota Semarang yang mempesona karena pura tersebut terletak tepat di dataran tinggi Semarang sehingga bisa dengan jelas melihat pemandangan di bawahnya. Untuk berkunjung ke tempat suci bagi agama hindu ini tidak sembarangan, ada beberapa syarat khusus yang harus dipatuhi oleh pengunjung untuk bisa sekedar berkunjung ke Pura Agung Girinatha.

Bagi kaum penganut Budha maka di Semarang juga terdapat simbol kebesaran berupa bangunan Vihara dan Pagoda. Vihara Buddhagaya Watugong yang terletak di wilayah Banyumanik adalah sebuah Vihara bagi umat Budha. Di Vihara Buddhagaya Watugong terdapat sebuah bangunan unik yaitu Pagoda Avalokitesvara. Pagoda Avalokitesvara memiliki tinggi bangunan setinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang mempunyai makna bahwa seorang budha akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh. Di Vihara ini terdapat sebuah patung Dewi Kwam Im (Dewi Welas Asih) yang menghadap ke seluruh penjuru mata angin sebagai bentuk harapan kepada sang dewi untuk memberikan kesejahteraan keseluruh penjuru. Bangunan Vihara ini tentu mengadaptasi dari bangunan di Tiongkok, sehingga ketika kita sedang berada di kompleks Vihara ini maka serasa berada di negeri tirai bambu. Dan kebesaran kaum Budha di Semarang juga terletak di kawasan Marina Semarang, yaitu Vihara Mahavira Graha. Vihara ini merupakan Vihara terbesar di Jawa Tengah yang memiliki 7 lantai dan ratusan patung budha di sekitarnya.

Semarang juga menjadi sejarah bagi etnis tionghoa di Indonesia yang menganut agama Tao dan Kong Hu Cu. Di salah satu sudut Kota Semarang terdapat sebuah pemukiman penduduk yang mayoritas merupakan warga keturunan Tionghoa, yang biasa disebut kompleks pecinan Semarang. Kompleks pecinan Semarang terletak di kawasan Wotgandul dan terbagi menjadi 4 kawasan sesuai dengan jumlah mata angin, gang pinggir (Pecinan wetan),gang tengah (Pecinan tengah), gang Baru (Pecinan kulon) dan gang warung (Pecinan lor). Khusus gang terakhir merupakan sebuah tempat wisata kuliner bagi warga Kota Semarang karena pada akhir pekan, terdapat berbagai warung jajanan yang berada di tengah gang dan biasa disebut Pasar Semais. Berbagai kuliner dari Semarang dan Tionghoa dijajakan disini dengan harga yang relatif terjangkau. Kawasan pecinan merupakan sebuah pemukiman yang menegaskan bahwa sejarah etnis tionghoa sudah kuat dan mengakar di Kota Semarang. Berada di kawasan ini kita seolah-olah sedang berada di Tiongkok karena bangunan dan interaksi sosial budayanya sangat kental sekali dengan tiongkok, ditambah diberbagai tempat klenteng atau kuil banyak sekali ornamen khas tiongkok seperti lampion, patung, altar dan yang lainya. Di Pecinan terdapat banyak sekali klenteng (kuil), jika dihitung ada 11 klenteng yang ada. Klenteng Siu Hok Bio, Klenteng Tek Hay Bio, Klenteng Tay Kak Sie dan masih banyak lainya menegaskan bahwa agama Kong Hu Cu dan Tao sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Klenteng yang terdapat di kawasan Pecinan dibangun pada tahun 1700-1800. Sebelumnya, perkampungan pecinan ini berlokasi di wilayah Simongan, tempat petilasan Laksamana Agung Cheng Ho berupa Goa dan disebut Gedung Batu yang akhirnya menetap dan beranak pinak di wilayah itu yang kita kenal dengan Klenteng Sam Po Kong, namun pasca pemberontakan etnis tionghoa di Batavia yang merembet hingga ke timur, pemerintah VOC memindahkan lokasinya ke wilayah Pecinan sekarang.

Indonesia tak luput dari sebuah keragaman yang terbentuk berdasarkan Agama, Suku, Ras dan Antar Golongan. Ketika kita membaca sejarah maka negara ini dibangun atas dasar perbedaan dan kemajemukan sehingga slogan negara kita adalah Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi satu jua. Perbedaan dipandang sebagai alat pemersatu, bukan pemecah belah. Dengan perbedaan kita menjadi saling menghormati dan menghargai. Sehingga sikap toleransi harus dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Akhir-akhir ini, toleransi antar umat beragama mengalami degradasi. Toleransi makin hilang karena munculnya kepentingan sebagian golongan yang mengkalim tentang kebenaran secara sepihak, padahal sejatinya semua agama adalah mengajarkan nilai-nilai kebaikan antar sesama. Toleransi merupakan sebuah interaksi bagi kita warga negara untuk terus menguatkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan. Setiap manusia yang diturunkan oleh Tuhan membawa misi menjalankan kebaikan untuk alam semesta dan seisinya tanpa pandang bulu adanya perbedaan.Hak setiap manusia harus diberikan ruang untuk menjalankan sebagaimana yang ia yakini tanpa adanya sekat atas nama Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan. Perbedaan yang seharusnya bisa menjadi pemersatu seolah-olah dijadikan sekat untuk memisahkan antara umat yang satu dengan yang lainya. Toleransi dan empati harus menjadi panutan bagi semua manusia sebagai pondasi dalam hidup dalam keberagamaan,karena yang namanya perbedaan merupakan sebuah keniscayaan.

Toleransi yang tinggi di Semarang dintandai dengan adanya simbol-simbol kebesaran agama seperti bangunan tempat ibadah yang megah dan mempunyai nilai sejarah tinggi. Simbol ini menegaskan bahwa perkembangan agama di Semarang cukup pesat, namun tidak pernah terdengar adanya gesekan antar umat beragama yang memicu konflik horizontal dan kekerasan terhadap kaum-kaum minoritas atas dalih agama. Interaksi sosial antar umat beragama begitu hangat, seakan tak ada pembeda bagi para pemeluk agama. Mereka hidup bersama, saling menghormati dan bergotong royong dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Semarang sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah tentu menarik minat para warga di daerah sekitar untuk datang mengadu nasib mencari nafkah. Sering kita jumpai berbagai etnis melebur, membaur seolah tidak ada sekat. Bagi kaum pendatang, tentu Semarang menjadi rumah yang nyaman bagi mereka. Disini kita bisa bertemu orang dari suku jawa, tionghoa dan yang lainya.

Hanendya Disya Randy Rahardja (Pejuang Skripsi Fisika Unnes/2011)

Kolom Komentar

comments