Dari Sejarah Masjid Kota Gedhe, Sampai Keindahan Pantai Ngrumput yang Angker

0
73

Perjalananku sebenarnya sudah terlaksana hampir setahun lalu, tepatnya pada hari Jumat, 19 Agustus 2016. Sudah lama penulis ingin berbagi cerita keindahan Pantai Ngrumput yang angker, akan tetapi sibuk oleh aktivitas semester akhir jadi sering tertunda-tunda. Kisahku kali ini tentang Jelajah-ku di Pantai Ngrumput, Gunungkidul. Dimana menjumpai pengalaman yang luar biasa, khususnya tentang hal angker.

Perjalanan dimulai Jumat pagi dari Semarang, tepatnya komplek kampus Universitas Negeri Semarang. Bersama ketiga teman, saya mengendarai dua motor menuju Jogja. Dalam perjalanan kondisi cuaca sangat terik, meski sempat terkena razia di pintu keluar Jawa Tengah akan tetapi perjalanan aman lancar. Sekaligus istirahat sebentar dengan berfoto di pintu masuk Provinsi Jawa Tengah.

Tepat jam 10.30 WIB kita memasuki Provinsi Yogyakarta, akan tetapi kita tidak langsung menuju ke lokasi pantai yang kita tuju. Setengah jam kami mencari Masjid Kotagedhe sebagai persinggahan sekaligus menunaikan kewajiban ibadah sholat Jumat. Akhirnya jam 11.15 menemukan Masjid Kotagedhe. Sebelum masuk ke lingkungan masjid, kita mengisi perut yang sedari pagi belum dimasuki apa-apa.

Masjid Kotagedhe merupakan salahsatu masjid tertua di Yogyakarta. Bangunan yang merupakan peninggalan kerajaan Mataram tersebut sampai sekarang masih berfungsi sebagaimana fungsinya. Masjid Agung Kotagede dibangun pada zaman kerajaan Mataram pada tahun 1640 oleh Sultan Agung bergotong-royong dengan masyarakat setempat yang pada umumnya waktu itu beragama Hindu dan Budha.

Melangkah memasuki halaman Masjid akan didapati sebuag pohon beringin tua yang umurnya sudah ratusan tahun, Wringin Sepuh namanya. Disekitar pohon tersebut terdapat parit yang mengelilingi Masjid. Parit tersebut dahulu dipakai untuk tempat berwudhu tetapi sekarang dipergunakan sebagai tambak.

Masjid Kotagede Yogyakarta yang sudah berusia ratusan tahun memiliki sebuah prasasti yang menyebutkan bahwa Masjid tersebut dibuat dalam dua tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung yang berhasil membangun inti masjid yang berukuran kecil yang disebut langgar. Tahap kedua masjid ini dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Ada perbedaan pada bangunan masjid tersebut yang dibangun oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X pada tiangnya. Tiang masjid yang dibangun Sultan Agung berasal dari kayu, sedangkan tiang yang dibangun oleh Paku Buwono X berbahan dari besi.

Masjid ini juga mencerminkan toleransi antara umat beragama waktu itu. Sebagian besar waktu itu warga masih memeluk agama Hindu dan Budha dan dengan senang hati ikut membantu pembangunan masjid ttersebut. Ciri khas Hindu dan Budha terlihat dari tiang dari kayu yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung yaitu gapura masjid yang berbentuk Paduraksa.

Bangunan masjid tersebut berbentuk limasan yang dapat dilihat dari atapnya yang bebentuk limas dan ruangan terbagi menjadi dua, yaitu inti dan serambi. Masjid ini terdapat sebuah bedug yang berusia cukup tua yang dahulu merupakan hadiah dari Nyai Pringgit dan sampai sekarang bedug tersebut masih dipakai sebagai penanda waktu untuk berdoa.

Tidak sekedar melakukan sholat. Kita berempat juga sempat berkeliling di sekitar perkampungan masjid Gede. Kami sempat berjumpa dua traveler perempuan yang dari Bandung. Namun, karena penulis malu-malu jadi tidak jadi foto bareng.

Lepas pukul 13.30 kami bergegas menuju ke gunung kidul. Tiket masuk ke pantai senilai 10ribu rupiah. Sampai di lokasi tepat jam 4 sore. Masalah ibadah sholat jangan khawatir, tersedia musholla yang sangat layak kok. Selesai sholat kami mulai menimbang-nimbang pantai mana yang dijadikan nge-camp. Setidaknya ada empat spot yang bisa kami gunakan. Pantai Drini, Pantai Ngrumput, dan Bukit Kosakora. Sesampai di lokasi kami jalan susur pantai untuk menentukan tempat camping, tentunya disambil foto-foto. Berikut cuplikan sedikit foto kami.

Setelah berkeliling survei tempat, akhirnya kami menentukan akan nge-camp di pantai ngrumput yang letaknya di tengah-tengah perbukitan. Hal itu kami lakukan kami ingin menikmati suasana sunyi. Sebenarnya ada view bagus di bukit kosakora, akan tetapi urung kami lakukan karena banyak traveler lain. Alasan lain tentunya kami tidak bisa menikmati pasir putih sekaligus ombak Samudera Hindia. Mengatur letak tenda agar tidak berjauhan dengan ombak laut, sekaligus mengarahkan pintu tenda ke Matahari terbit pagi nanti.

Menjelang senja, waktu maghrib tiba. Malam angker yang panjang pun mulai dimulai. Di saat teman-teman sedang memasak, saya melakukan sholat agak jauh dari mereka. Di situ saya merasakan nuansa yang agak ganjil, beberapa kali saya muncak dan mantai, akan tetapi baru kali itu merasa ada yang aneh.

Selesai sholat, bersama ketiga temanku saya makan Indomie. Tidak jauh dari tenda, ada penduduk yang membakar sampah. Tak lama kemudian penduduk tersebut memanggilku untuk mendekatinya, meminta uang lima belas ribu rupiah sebagai biaya kebersihan, semacam pungutan liar. Di tengah-tengah melanjutkan makan malam, tiba-tiba saya mendengar suara tertawa jenaka dari dua gadis yang cukup keras. Kira-kira sebelah kiri tenda, sementara kami berada di kanan tenda. Meskipun suara yang cukup jelas, saya tak berani menceritakan kepada teman-teman saya, mengantisi agar tidak membuat mereka takut. Kalau semua pada takut malah ngga jadi liburan. Cukup saya pendam sendiri.

Selepas makan, saya sendiri langsung masuk ke tenda. Sementara ketiga teman saya menggelar matras sambil menikmati nuansa ombak malam hari. Saya tidak berani keluar, karena merasakan bahwa kedua gadis tersebut masih berada di kiri tenda.

Pukul 19.30 mereka semua masuk ke tenda. Seperti biasa, kami akan larut dalam perbincangan santai. Dari membicarakan masalah kuliah, politik, sampai keinginan-keinginan besar di masa depan. Namun, perihal dua gadis yang sampai saat itu masih menunggui di samping tenda kiri saya masih tutup mulut.

Letak pendirian tenda yang hanya sepuluh meter dari bibir pantai membuat kami was-was. Apalagi ombak perlahan-perlahan naik, melahap pantai. Akhirnya kami memberi patokan, kalau sampai tengah malam ombak belum menyentuh tenda, berarti lokasi kita aman. Dalam penjagaan tersebut, saya tidak bisa tidur nyenyak.

Beberapa kali ombak Samudera Hindia menghantam keras karang. Hal tersebut membuatku terbangun secara tiba-tiba. Ketika bangun karena kaget oleh suara ombak, saya merasakan masih ditunggui dua orang gadis. Bahkan saya merasakan mereka sedang menina bobokan kami. Saya akumulasikan masih berumur 22 tahunan, masih gadis, cantik dah. Setidaknya sepanjang malam tersebut ada lima kali saya kaget oleh suara ombak, dan ketika bangun selalu mendapati dua gadis tersebut selalu konsisten di samping kiri tenda.

Kemudian pagi tiba, malam panjang penuh keangkeran akhirnya selesai. Pagi itu kami habisnya dengan bermain pasir, ombak, dan sarapan pagi. Jam sembilan kami meninggalkan pantai, menuju kota Jogja. Setelah singgah di Wonosari dan di Masjid Agung Mataram, pukul 14.00 kami meninggalkan Yogyakarta menuju Semarang.

Hampir maghrib kami tiba dikosan kami. Disinilah kami semua buka-bukaan menceritakan pengalaman yang baru saja kami lakukan. Akupun menceritakan perihal dua gadis di kiri tenda. Ternyata kehadiran gadis tersebut juga dirasakan dua teman saya. Bahkan ketika saya di dalam tenda dan ketiga teman saya menikmati pantai. Salahsatu dari mereka melihat seseorang yang berjalan lalu-lalang, dari pantai kemudian kelaut kemudian bolak-balik lagi. Angker banget dah.

Mulai hari ini kami bersepakat, jikalau suatu hari nanti mantai jangan mendirikan tenda sendirian. Bergabung dengan teman-teman traveler lain. Jangan hanya mementingkan keindahan alam semata. Namun diluar cerita gadis tersebut, pantai Ngrumput adalah keindahan dari Sang Maha Pencipta yang wajib kamu nikmati. Berikut video perjalananku yang di kompilasikan dengan iklan Indomie serta beberapa foto perjalanan.

Cuplikan singkat perjalanan di Pantai Ngrumput, Gunung Kidul, Jogja. #indomieseleraku @indomie @hisyamnaufal_ @arica_rovi

A post shared by Muhammad Irham Farohi (@irham_faro) on

 

 

Kolom Komentar

comments