Ridwan Kamil Harus Ditumbangkan, Mengapa?

0
480

Belakangan ini, Walikota Bandung, Ridwan Kamil dihinggapi isu tak sedap berbau Sara. Isu tersebut muncul bukan tanpa maksud, karena pak wali kota yang ngehits ini berniat mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat pada Pilkada Serentak tahun 2018 nanti. Lalu mengapa pak wali yang notabene beragama Islam tetap diterpa isu Sara seperti Koh Ahok? Apakah Islam pak wali berbeda dengan mereka?

Jelaslah selama ini mata kita dikaburkan dengan berbagai macam aksi yang mengatas namakan bela Islam padahal sebenarnya yang dibela adalah partai dan kepentingan tertentu. Jika memang tulus bela Islam, tidak mungkin pak wali yang seiman pun akan digoyang dengan isu-isu sara.

Pertama, pak wali diisukan memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bagi 300 rumah ibadah non muslim selama menjabat sebagai Walikota Bandung. Kabar tersebut langsung ditepis oleh pak wali yang menganggapnya sebagai fitnah dari orang yang tidak suka beliau. Kang Emil, menjelaskan bahwa izin pendirian 300 rumah ibadah di Kota Bandung tersebut diberikan sejak zaman Belanda hingga tahun ke empat beliau menjabat sebagai walikota. Jika dihitung saat kepemimpinan Kang Emil saja, baru memberikan sepuluh izin, lima untuk masjid, 3 gereja, dan 2 wihara.

Bagaimana mungkin Kang Emil seorang akademisi yang agamis tidak memperhatikan agamanya (Islam) jika setiap akhir pekan beliau selalu melakukan gerakan subuh berjamaah di Kota Bandung. Dari satu masjid, ke masjid yang lain selalu di sambangi setiap hari Minggu pagi.

Selain itu, beliau juga memiliki gerakan magrib mengaji bagi anak-anak di Kota Bandung agar dapat mendalami baca tulis Quran serta ajaran Islam kepada guru ngaji di Masjid-Masjid. Bahkan, direncanakan Kota Bandung akan membangun Gedung Pusat Kajian Al Quran terbesar di Jawa Barat. Sekarang, masihkan kita berpikiran bahwa Kang Emil Tidak memperhatikan kaum muslimin?

Kang Emil memberikan izin kepada agama lain yang secara sah diakui di Indonesia merupakan sebuah bentuk toleransi kepada pemeluk agama lain yang harus kita apresiasi. Negara kita bukanlah berdasarkan syariat agama Islam, melainkan berketuhanan yang esa. Sehingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita perlu mengedepankan sikap toleransi antar pemeluk agama. Tidak perlu masalah seperti ini ditanggapi secara serius, masyarakat Indonesia sudah bahagia dengan kondisi saat ini. Jangan sampai kita menyesal untuk kesekian kalinya karena isu-isu yang hanya memikirkan kepentingan kelompoknya sendiri.

Sosok Kang Emil merupakan pemimpin idaman masa depan. Karena Beliau lahir bukanlah dari rahim politik, melainkan memang sosok akademisi yang memiliki kapasitas dan kualitas yang baik dalam memimpin dan memajukan suatu daerah. Sosok bersih, transparan, dan dekat dengan seluruh elemen masyarakat. Semoga tegar selalu kang Emil.

Kolom Komentar

comments