Refleksi Hari Buruh (MayDay), Dalam Kacamata Mahasiswa

0
82
Kehadiran buruh memang tidak lepas dari perkembangan revolusi Industri yang terjadi pada tahun 1750-1850. Revolusi industri merupakan perubahan yang menyeluruh pada bidang-bidang pertanian, perkebunan, pertambangan dan transportasi. Dengan adanya revolusi industri juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat saat itu dan tentunya akan memberikan dampak sosial dan ekonomi masyarakat seluruh dunia. Revolusi industri mulai berkembang di negara eropa tepatnya di britania raya ketika ditemukanya alat produksi pengganti yang sebelumnya dilakukan oleh tenaga manusia atau hewan namun saat itu mulai digunakan mesin sebagai alat-alat produksi dan bertujuan untuk lebih mengefisiensikan produksi serta meminimalkan biaya produksi.

Dengan adanya revolusi industri tentu sangat menguntungkan para pemilik modal karena dengan kekuatan finansialnya bisa membuka industri dan pabrik-pabrik serta akan mempekerjakan sejumlah buruh untuk bekerja pada industri dan pabrik tersebut. Perkembangan industri dan pabrik yang semakin meluas tentu juga akan membunuh para pengusaha kecil dan akibatnya banyak sekali pengusaha kecil yang gulung tikar dan akhirnya ikut bekerja sebagai buruh pada industri besar. Hal ini tentu saja menjadikan adanya sebuah perbedaan kelas antara pemodal dan buruh. Ada sekat di antara kedua kelas tersebut dan biasanya dipengaruhi oleh kepemilikan modal.

Bagaimanapun kekuatan pemodal sangat luar biasa pengaruhnya, dia bisa melakukan monopoli perdagangan dan mengatur transaksi keuangan, akibatnya pundi-pundi keuangan pemodal semakin melimpah namun buruh-buruh diperas keringatnya dan tenaganya demi keuntungan pemodal. Semakin pemodal berkuasa atas perekonomian dan perdangangan maka semakin kemiskinan dan kemelaratan menghantui para buruh. Dengan gaji yang relatif kecil dan waktu bekerja yang lama tentu semakin menambah penderitaan para buruh. Mereka tetap hidup dalam ketidakjelasan akan nasib dan masa depanya. Tidak adanya jaminan kesejahteraan juga semakin mencekik para buruh, alih-alih mampu mendapatkan gaji yang tinggi tapi apa daya, pemodal bebas untuk menggaji mereka dan mereka tidak berhak untuk menuntut lebih.

Setiap tangga 1 mei diperingati sebagai hari buruh/may day. Sejarah hari buruh sudah sangat panjang dimulai ketika adanya aksi demonstrasi para buruh di Amerika Serikat pada tahun 1886, yang menuntut pemberlakuan delapan jam kerja. Sejak saat itu di berbagai negera para buruh melakukan aksi solidaritas sebagai sebuah kelompok yang tentu merasakan kegelisahan yang sama terutama menyangkut terkait masalah kesejahteraan. Di Indonesia sendiri ditetapkan bahwa setiap tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari buruh. Melalui UU Kerja No. 12 Tahun 1948, pada pasal 15 ayat 2, dinyatakan bahwa “Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban kerja.” Namun pada zaman orde baru peringatan itu tidak diberlakukan karena alasan keamanan, aksi demonstrasi diidentikan dengan perlawanan terhadap pemerintah. Namun pada tanggal 1 Mei 2014 telah ditetapkan sebagai hari libur nasional sesuai dengan keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tertuang di dalam Keputusan Presiden (Keppres) No. 24 tahun 2013.

Gerakan buruh memang mempunyai arti tersendiri bagi kemerdekaan Indonesia. Patut dicatat bahwa perlawanan terhadap para penjajah dimulai oleh para buruh yang melakukan aksi-aksi mogok kerja sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Mereka menyadari sebagai buruh adanya bentuk perbudakan yang dilakukan oleh para penjajah, mereka bekerja siang malam bahkan hingga mandi keringat demi keuntungan para penjajah dan mereka tetap hidup dalam kesengsaraan. Gerakan massa buruh memang sangat rapi dan terkoordinasi dengan baik, buruh merupakan sebuah kesatuan yang solid dan dengan memobilisasi kaum buruh maka bisa terjadi revolusi sosial di suatu negara.

Permasalahan yang dihadapi buruh dari tahun ke tahun tetap sama, yakni masalah kenaikan upah, sistem outsourcing dan kesejahteraan. Di perekonomian yang semakin sulit saat ini tentu mendapat upah yang layak menjadi harapan para buruh untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Upah layak juga menandakan perusahaan lebih manusiawi terhadap para buruh, karena mereka sudah memberikan keuntungan yang banyak bagi perusahaan dan sudah sepantasnya perusahaan memberikan penghargaan pada mereka minimal dengan upah yang layak.

Sistem outsourcing juga menjadi momok bagi para buruh, karena buruh yang bekerja dengan sistem outsourcing maka akan dihantui oleh kontrak antara penyedia jasa outsourcing dan pengguna jasa outsourcing. Buruh yang bekerja menggunakan sistem outsourcing direkrut oleh jasa outsourcing dan kemudian disalurkan kepada pengguna jasa outsourcing seperti pabrik-pabrik sehingga tentu akan menimbulkan kekhawatiran akan pemutusan kerja secara sepihak dan akan menambah ketidakjelasan akan masa depan. Upaya peningkatan kesejahteraan dan perlindungan bagi para buruh juga harus menjadi perhatian serius pihak pemerintah maupun perusahaan. Dengan adanya jaminan bagi para buruh terkait kesejahteraan dan perlindungan maka para buruh tentu akan bekerja lebih maksimal dan sudah seharusnya mereka meningkatkan kinerja mereka.

Permasalahan buruh juga pasti dirasakan semua warga menengah kebawah yang hidup dalam ketidakpastian akan nasib dan masa depannya, sebagai mahasiswa tentu sudah seharusnya ikut merasakan penderitaan mereka karena kita bisa berkuliah juga karena subsidi yang diperoleh dari pajak yang dibayarkan oleh para buruh dan warga menengah ke bawah. Berbuat sesuatulah untuk memperingati hari buruh sebagai bentuk solidaritas terhadap para buruh. Tidak ada salahnya kita teriakan hidup mahasiswa dan hidup buruh secara bersama karena mereka adalah kelompok yang patut kita perjuangkan.

 

Di tulis oleh : Hanendya Disha Randy Raharja

Kolom Komentar

comments