Pilkada DKI, Kamu Pilih Surga atau Masuk ke Neraka

0
96

Pilkada DKI 2017 telah usai, setelah melewati berbulan-bulan proses demokrasi, akhirnya dalam putaran kedua berdasarkan quick count, Anies-Sandi mengungguli petahana, Basuki-Djarot.

Bagi penulis sendiri Pilkada DKI tak ubahnya pemilihan presiden Amerika Serikat. Dimana orang yang awalnya diunggulkan akan menang, diakhir-akhir pertandingan justru terjungkal. Namun, ada perbedaan yang menganga lebar. Bahwa sesungguhnya pilkada DKI lebih tragis dari pemilihan presiden. Segala upaya di lakukan untuk menjungkalkan petahana. Disini letak perbedaannya dan letak ketidak adilannya.

Jikalau Saudara mengikuti perjalanan dari awal, ada perlakuan yang tak pantas untuk salahsatu calon. Bahkan sebelum pertandingan pun ia sudah di hantam isu-isu yang kurang manusiawi. Etnis China, kristen, dan yang paling tak manusiawi adalah tuduhan penistaan agama.

Tidak hanya itu, gelombang mobilisasi massa yang mencampur adukkan agama ke dalam politik praktis, tak manusiawi. Dapat dikatakan, “Tuhan diajak kampanye, tidak hanya Tuhan saja, melainkan firmannya pula.” Kalau penulis terbiasa menjadi hakim atas masing-masing manusia, tentu sudah saya katakan, “Betapa besarnya siksa Tuhan manakala namanya telah di ikut-ikutkan dalam Pilkada.” Namun penulis tak biasa menghakimi, semoga saja Tuhan mengampuni mereka, atau malah memberikan pahala, seperti hubaya-hubaya mereka selama ini.

Dalam Pilkada DKI, untuk masuk surga dan masuk neraka sangatlah mudah. Memilih A, saudara kan masuk surga dengan mudah, seolah-olah tanpa hisab amal baik di dunia. Atau memilih B, saudara kan masuk ke neraka jahannam. Jadi munafik, musyrik. Tidak hanya balasan di akhirat saja, di dunia pun saudara sudah mendapat siksaan berupa tak mendapat sholat jenazah, laiknya muslim pada umumnya.

Surga dan Neraka seolah menjadi hal sangat legal dalam hiruk pikul politik praktis kali ini. Efek penggunaannya memang sangat berpengaruh. Surga menjadi primadona untuk digandrungi secara berjamaah. Siapa pula yang tak mau masuk surga, dengan segala cerita-cerita indah yang selama ini dikabarkan. Kalau pun tidak mau masuk surga, berarti kamu harus masuk neraka. Tak ada pilihan berdiri di tengah-tengah, atau memutuskan tak memilih keduanya.

Seperti lagu-lagu lama, manusia merasa takkan mampu bertahan di neraka. Oleh karenanya, mereka berbondong-bondong memilih surga dengan masuk ke bilik suara dan mencamkan di kepala, asal bukan penista agama. Berhasillah orang-orang berbaju agama memanfaatkan ketidak berdayaan manusia memahami firman-firman Tuhan secara benar dan gamblang.

Padahal di lokasi acara yang katanya “penistaan agama” tersebut, sang calon unggul suara telak. Dalam nalar yang berpikir waras, dimana letak penistaan dimana orang-orang yang mendengar secara langsung merasa tak ada yang perlu dipersoalkan, apalagi sampai penuduhan penistaan agama. Kini Agama telah dijadikan candu dalam politik.

Tuhan telah memilihkan gubernur yang akan memimpin lima tahun datang. Mungkin ini pilihan terbaik, baik dimata Tuhan belum tentu baik dimata hambanya. Selama ini sang calon yang tertuduh penistaan agama telah legowo, tak ada alasan kami untuk terus merasa didzalimi. Biarlah, ia kalah dalam pilkada, tapi menang di hati kami. Kami maafkan orang yang mendholiminya.. tapi tak melupakan.

 

Kolom Komentar

comments