Pilkada: Momentum dan Langkah Perubahan Generasi Muda dari Apatisme Politik

0
189
Karikatur Pilkada
Karikatur Pilkada – Credit Image – http://www.beritamoneter.com/problematika-penegakan-hukum-pilkada/

Pilkada sebagaimana dalam UU No. 22 tahun 2007 dijelaskan sebagai Pemilu untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan pemahaman leksikal tersebut, tidak mengherankan Pilkada merupakan hal yang fundamental dalam proses penyelenggaraan kedaulatan negara.

Selain itu, momentum pilkada ini juga merupakan bentuk aktualisasi dari negara Indonesia yang menganut sistem demokrasi. Ingat apa yang pernah disampaikan – Abraham Lincoln demokrasi merupakan pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jelas dalam hal ini menunjukan bahwa kedaulatan tertinggi berada ditangan rakyat. Tidak mengherankan pula muncul adigium “vox populi vox dei” yang berarti – suara rakyat merupakan suara Tuhan. Sehingga jelas dalam hal ini Pilkada merupakan bagian dari proses demokrasi untuk memilih wakil rakyat yang berdaulat.

Selanjutnya, harus dipahami pula bagi negara seperti Indonesia yang menganut sistem demokrasi tidak langsung, kedaulatan dijalankan oleh wakil-wakil rakyat yang merepresentasikan kehendak rakyat, dan rakyat sendiri yang memilih dan menentukan sebelumnya. Nah, untuk menentukan siapa yang menjadi representasi rakyat inilah didasarkan pada hasil pemilihan umum (Pemilu) yang salah satunya adalah pemilihan umum kepala daerah.

Maka, menjadi penting kaitannya semua masyarakat bisa terlibat secara holistik, dalam momentum yang menentukan ini. Hal ini lantaran, untuk memilih pemimpin yang memiliki kapabilitas dan kapasitas diperlukan partisipasi politik dari masyarakat terutama bagi generasi muda.

Namun, dewasa ini banyak diantara generasi muda yang mulai bersikap apolitis dan apatis terhadap segala bentuk aktivitas politik termasuk partisipasi dalam Pilkada. Padahal, Data BPS menyebutkan, tidak kurang dari 15-20% pemilih pada Pemilu 2014 adalah pemilih pemula.BPS (sensus penduduk 2010) penduduk usia produktif 26% atau 64 juta penduduk usia15-19 tahun berjumlah 20.871.086 jiwa. Usia 20-24 tahun berjumlah 19.878.417 orang. Jumlah total pemilih pemula 40.749.503 orang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri jika angka golput pada segmen pemilih pemula dan pemuda ini terlewat besar. Bukan tidak mungkin dengan rendahnya angka partisipasi nantinya akan menurunkan tingkat legitimasi pemimpin yang terpilih. Jelas, nantinya dengan menurunnya tingkat legitimasi tersebut, sedikit banyak juga akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan. Ingat, diawal tadi bahwa ruh dari demokrasi adalah “rakyat”.

Blue Print Politik dan Langkah Perubahan Pemuda

Secara ideal kita semua sepakat bahwa pemuda merupakan insan-insan pilihan yang akan meneruskan dan menentukan arah pergerakan bangsa selanjutnya. Sejarah berbagai bangsa telah membuktikan, pergerakan pemuda yang mengawali setiap perubahan serta setiap pembangunan arah sebuah bangsa. Setidaknya hal tersebut merupakan salah satu representasi yang mesti dipahami sebagai tuntunan dan stimulus dalam meningkatkan “konsistensi” dan “stabilitas” pemuda menuju orientasi yang lebih baik. Maka, tidak berlebihan jika pemuda kerap diekuivalenkan dengan perubahan karena peran pemuda sangat menentukan di masa yang akan datang. Bahkan, tidak salah apabila dengan kapabilitas tersebut pemuda memperoleh predikat sebagai “agen perubahan” (agent of change).

Dalam ranah politik, pemuda merupakan individu atau komunitas warga negara yang terus-menerus menempa diri tanpa mengenal batas waktu dan mengaktualisasikan segenap potensinya untuk menjadi pemimpin di masa depan (Musawir, 2009). Dalam politik generasi muda merupakan elemen penting dalam negara sebagai sistem politik. Penulis sendiri menakrifkan bawasannya pemuda dan politik merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Argumen hipotetikal tersebut memperjelas pandangan kita bahwa dalam kaitannya dengan politik, pemuda secara ideal memiliki peranan yang laten yakni sebagai “agent of change” dan “agent of social control”.

Bahkan, sejarah dunia telah membuktikan bahwa gerakan pemuda (youth movement) telah membuat blue print dalam gerakan-gerakan kemajuan suatu bangsa. Pemuda ialah lokomotif penggerak dan garda terdepan dalam setiap episode pergerakan penting bangsa Indonesia . Namun, hal ini kontradiktif di era kekinian, meskipun tidak semua, penulis memiliki pandangan bahwa sebagian pemuda tidak lagi memiliki spirit perjuangan sebagai agen pelopor, agen pembaharu apalagi disebut agen pencipta. Padahal dengan munculnya gerakan reformasi 1998 secara tegas telah memberikan space yang luas bagi pemuda dalam ranah kehidupan sosial dan politik. Hal ini, seharusnya mampu meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan bangsa. Tapi, hipotesis tersebut hanyalah gambaran “das sollen” semata yang mana secara faktual sebagian besar pemuda saat ini terjebak dalam sikap “patriotik semu” dengan tendensi “apatis” dan “gagap”. Sehingga nampak pemuda tengah kehilangan gairah akan “nafsu berpolitik”.

Pilkada sebuah Momentum dan Jalan Keluar dari Apatisme Politik

Sebagaimana diungkapkan diawal Pilkada merupakan salah satu momentum dalam upaya mewujudkan perubahan dalam kehidupan bernegara, sehingga semua pihak diharapkan mampu berpartisipasi secara holistik, termasuk kita selaku generasi muda. Pemuda sebagai salah pihak yang memiliki hak pilih seyogyanya mampu menggunakan haknya tersebut secara optimal dan terlibat secara aktif dalam proses Pilkada. Selain itu, pemuda harus mampu menunjukan posisinya yang vital dengan menjadikan diri role model dalam kehidupan bermasyarakat. Memberikan contoh dengan terlibat dan mensosialisasikan betapa pentingnya turut aktif dalam proses Pilkada.

Pemuda selaku aktor intelektual memiliki kewajiban sosial guna mencerdaskan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yakni melalui langkah mendarmabaktikan diri pada bumi pertiwi. Munculnya, apatisme politik sampai dengan tingkat grassroot, yang diketahui melalui maraknya praktik golput dan makin menguapnya antusiasme dan kepercayaan masyarakat terhadap dinamika politik yang ada. Harus, ditanggapi secara serius oleh pemuda sebagai pekerjaan rumah yang mesti deselesaikan secara segera.

Darmabakti kepada bumi pertiwi, dapat dilakukan melalui beberapa langkah diantaranya dalam bentuk konsep, sikap, prilaku, dan kegiatan politik. Namun secara sederhana hal ini dapat diimplementasikan melalui berbagai kegiatan yang didasarkan pada pendekatan politik pada masyarakat, terjun lebih dalam pada masyarakat, serta menanamkan image yang baik pada masyarakat. Karena, secara umum penulis menyakini bahwa “kebaikan yang diniatkan adalah sebuah rencana, sedangkan kebaikan yang diaksikan adalah pengabdian”.

Kolom Komentar

comments