5 Peraih Nobel Sastra Yang Hingga Kini Masih Populer

0
203
via stylewhack.com

5 Peraih Nobel Sastra Yang Hingga Kini Masih Populer – Penghargaan nobel sastra adalah satu dari lima Penghargaan Nobel yang diadakan atas permintaan oleh penemu dan industrialis Swedia Alfred Nobel. Penghargaan ini diberikan pada orang yang paling giat melaksanakan hubungan yang bersifat internasional, pendiri pergerakan perdamaian atau berusaha mengurangi atau melenyapkan peperangan. Berikut kelima peraih nobel kesustraan yang masih populer hingga kini.

 

1. Rabindranath Tagore

Hasil gambar untuk Rabindranath Tagore
via stylewhack.com

Rabindranath Tagore lahir di Jorasanko, Kolkata, India, 7 Mei 1861 dan meninggal pada 7 Agustus 1941. Ia juga dikenal dengan nama Gurudev, merupakan seorang penyair, dermawan, filsuf, seniman, musikan, sekaligus sastrawan bengali. Terlahir dalam keluarga Brahmana Bengali yaitu Brahmana yang tinggal di Bengali. Tagore merupakan orang pertama Asia yang mendapat anugerah Nobel dalam bidang sastra.

Mulanya Tagore  menulis puisi sejak usia delapan tahun dengan menggunakan nama samaran “Bhanushingho” (Singa Matahari) untuk penerbitan karya puisinya yang pertama pada tahun 1877, dan menulis cerita pendek pertamanya pada usia enam belas tahun. Ia mengenyam pendidikan dasar di rumah (Home Schooling), dan tinggal di Shilaidaha, serta sering melakukan perjalanan panjang yang kemudian membentuknya jadi seseorang yang pragmatis dan tidak suka/patuh pada norma sosial dan adat. Rasa kecewa kepada British Raj membuat Tagore memberikan dukungan pada Gerakan Kemerdekaan India dan berteman dengan Mahatma Gandhi.

Beberapa karya besarnya antara lain Gitanjali (Song Offerings), Gora (Fair-Faced), dan Ghare-Baire (The Home and the World), serta karya puisi, cerita pendek dan novel dikenal dan dikagumi dunia luas. Ia juga seorang reformis kebudayaan dan polymath yang memodernisasikan seni budaya di Benggala. Dua buah lagu dari aliran Rabindrasangeet (sebuah aliran lagu yang ia ciptakan) kini menjadi lagu kebangsan Bangadesh (Amar Shonar Bangla) dan India (Jana Maha Gana).

2. Sir Winston Leonard Spencer Churchill

Hasil gambar untuk Sir Winston Leonard Spencer Churchill
via ww2gravestone.com

Lahir di Oxfordshire, Inggris, 30 November 1874 dan meninggal pada 24 Januari 1965 adalah tokoh politik dan pengarang dari Inggris yang paling dikenal sebagai Perdana Menteri Britania Raya sewaktu Perang Dunia Kedua. Peranannya sebagai ahli strategi, orator, diplomat dan politisi terkemuka menjadikan Churchill salah satu dari tokoh paling berpengaruh di sejarah dunia. Pada tahun 1953, Churchil dianugerahkan penghargaan Nobel di bidang literarur karena sumbangan yang ia berikan dalam buku-buku karangannya mengenai bahasa inggris dan sejarah dunia.

3. Ernest Miller Hemingway

Hasil gambar untuk Ernest Miller Hemingway
via www.lifedaily.com

Lelaki yang lahir pada 21 Juli 1899 dan kemudian meninggal 2 Juli 1961. Merupakan seorang novelis, pengarang cerita pendek, dan wartawan Amerika. Gaya penulisannya yang khas dicirikan oleh minimalisme yang singkat dan dengan gaya mengecilkan dari keadaan sebenarnya dan mempunyai pengaruh yang penting terhadap perkembangan fiksi abad ke-20.

Hemingway, yang dijuluki “Papa,” adalah bagian dari komunitas ekspatriat pada 1920-an di Paris, yang digambarkan dalam novelnya A Moveable Feast. Ia yang dikenal sebagai bagian dari “Generasi yang Hilang,” sebuah nama yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Gertrude Stein, mengalami kehidupan sosial yang penuh dengan badai, menikah empat kali, dan konon menjalin banyak hubungan romantis semasa hidupnya. Hemingway memperoleh Hadiah Pulitzer pada 1953 untuk The Old Man and the Sea. Ia memperoleh Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1954. dan dalam usia 61, ia bunuh diri.

4. Ferit Orhan Pamuk

Hasil gambar untuk orhan pamuk
via alchetron.com

Orhan Pamuk lahir di Istanbul, Turki, 7 Juni 1952, adalah seorang novelis Turki terkemuka dalam sastra pasca-modernis. Ia sangat populer di dalam negeri, dan pembacanya di seluruh dunia juga bertambah terus. Sebagai salah seorang novelis Eurasia paling terkemuka, karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Ia telah mendapatkan banyak penghargaan di dalam negeri maupun internasional.

Pada 2005, pemerintah Turki mengenakan tuduhan kriminal terhadap Pamuk setelah ia membuat pernyataan-pernyataan mengenai pembunuhan lebih dari 1 juta orang Armenia dan 30.000 orang Kurdi di Anatolia. Jika terbukti bersalah, Pamuk dapat dipenjara hingga tiga tahun. Pengadilannya dimulai pada 16 Desember 2005, tetapi segera ditunda karena menunggu persetujuan dari Departemen Kehakiman Turki. Tuduhan terhadapnya akhirnya dibatalkan pada 22 Januari 2006.

5. Gabriel José de la Concordia García Márquez

Hasil gambar untuk Gabriel_García_Márquez
via www.vol1brooklyn.com

García Márquez lahir 6 Maret 1927 dan meninggal pada 17 April 2014 pada umur 87 tahun) adalah seorang novelis, jurnalis, penerbit, dan aktivis politik Kolombia. Ia dilahirkan di kota Aracataca di departemen Magdalena, namun hidupnya kebanyakan dijalaninya di Meksiko dan Eropa. Kemudian ia banyak menghabiskan hidupnya di Mexico City.

García Márquez secara umum dipandang sebagai tokoh utama dari gaya sastra yang dikenal sebagai realisme magis. Sementara banyak dari tulisannya menampilkannya, kita tidak dapat mengategorikan semua tulisannya dalam gaya ini.

Karya besarnya yang pertama adalah Kisah tentang Seorang Pelaut yang Karam (Relato de un náufrago), yang ditulisnya sebagai cerita bersambung surat kabar pada 1955. Buku ini menceritakan kisah nyata tentang sebuah kapal karam dengan mengungkapkan kenyataan bahwa kehadiran barang-barang gelap di sebuah kapal Angkatan Laut Kolombia, yang membuat kapal itu kelebihan muatan, telah ikut menyebabkan karamnya. Hal ini menimbulkan kontroversi publik, karena cerita itu membantah laporan resmi mengenai kejadian sekitar kecelakaan itu, yang mempersalahkan badai dan mengagungkan si pelaut yang selamat.

Beberapa karyanya digolongkan sebagai fiksi dan juga non-fiksi, khususnya Kronik tentang Maut yang telah Diramalkan (Crónica de una muerte anunciada) tahun 1981, yang mengisahkan cerita pembunuhan balas dendam yang direkam dalam koran-koran, dan Cinta di Kala Wabah Kolera (El amor en los tiempos del cólera) (1985), yang didasarkan secara bebas pada kisah berpacaran orangtuanya. Banyak dari karya-karyanya, termasuk kedua buku di atas, berlangsung dalam “alam García Márquez”, yang tampil kembali dari buku ke buku dalam bentuk tokoh-tokohnya, tempat-tempat dan kejadian-kejadiannya.

Kolom Komentar

comments