Membangun Komunitas Orangtua

0
35

Membangun Komunitas Orangtua, Pagi hari ialah waktu dimana imajinasi mencari jawabannya dari sekian pertanyaan di sepanjang malam. Setelah semalaman melakukan refleksi yang cukup, itu biasa dilakukan oleh orang-orang kebanyakan golongan darah A. Mungkin aku juga termasuk didalamnya. Pagi hingga larut malam coba lakukan perjalanan, di sudut-sudut jalan pasti sedikit banyak menemukan kumpulan anak muda rentang usia 14 s.d 19 tahun membentuk suatu komunitas atau geng, tidak menutup kemungkinan lebih beragam usianya. Di latarbelakangi atas kesamaan lingkungan tempat tinggal, namun biasanya hal ini lebih karena mempunyai kesamaan pada satu kesukaan. Berkumpulnya anak-anak di usia ini sebenarnya adalah mereka tidak berhasil dalam menemukan passion mereka, ada sisi keterbatasan yang dirasa mengganggu luapan ekspresi (kesukaan) yang ingin sekali di pertunjukkan. Sekolah yang penuh aturan kadang membuat mereka dengan usia yang ada itu merasa jenuh, belum lagi tenaga pengajar yang tidak bisa menjawab ekspetasi mereka dan disebutnya dengan istilah kaku. Suasana mengajar yang monoton dan terkesan oleh mereka soal beberapa tenaga pengajar profesional dalam pengajaran hanya seperti menggugurkan kewajiban, melibatkan mereka dalam suasana belajar yang sesungguhnya menjadi pertanyaan tersendiri.

Sekolah dengan berbagai sistem yang diperuntukkan bagi mereka yang berusia rentang usia tersebut tadi ternyata belum bisa membentuk anak-anak yang berkarakter ketika mereka di luar sekolah. Ini artinya belum membekasnya apa yang telah diajarkan di kelas, hal yang diajarkan tidak masuk dalam jiwa-jiwa anak-anak tadi. Mungkin ramai tanggapan, tapi hampa akan sebuah makna mengapa mereka harus belajar menyoal yang diajarkan. Memahamkan pada tujuan itu sangat wajib untuk mendorong kesadaran awal, membangun kesadaran dimulai sejak dini dan memupuknya dengan konsistensi pesan kebaikan yang disisipkan dalam setiap pengajaran. Indahnya ketika pesan kebaikan dalam kelas bisa hidup dalam setiap langkah anak-anak sekolah.

Kenakalan remaja memang tidak bisa dilimpahkan seluruhnya pada pihak sekolah. Adanya penilaian bahwa suatu sekolah telah gagal dalam mendidik adalah kesimpulan yang terlalu cepat hanya karena kasus yang sedang mencuat beberapa hari ini. Terbentuknya sekumpulan anak-anak yang sulit diatur dan diberi tahu tentu di picu oleh berbagai faktor. (ilmu perilaku). Peran orangtua dan peran sekolah harus benar-benar berkolaborasi dalam setiap perkembangannya. Sinergitas peran antara orangtua murid dengan pihak sekolah seringkali berseberangan. Salah satunya adalah tentang konsep ideal yang dimiliki masing-masing pihak. Pertemuan antara orangtua murid dan pihak sekolah terkesan hanya formalitas yang penting ada, perhatikan di beberapa sekolah pertemuan ini biasa dilakukan ketika si anak akan menjelang bagi raport atau ada suatu acara yang mengharuskan sumbangan dana dan tenaga sebagai panitia misalnya. Pada akhirnya soal menggugurkan kewajiban ini menjadi sinkron antara si orangtua murid dengan pihak sekolah yang diwakili tenaga pengajar bahwa mereka menjalani ini sekedar cukup pada kata selesai, bukan bagaiamana di setiap prosesnya mempunyai makna yang lebih penting dan mendalam tentang rules membangun sebuah generasi secara serius. Tidak heran ketika ada pemberitaan media seorang anak sekolah melakukan tindakan penyimpangan, yang terjadi ialah saling lempar tanggungjawab antara pihak sekolah dengan orangtua siswa. Saling menyalahkan soal peran siapa yang belum maksimal dalam mendidik anak sehingga terjadi hal negatif yang demikian tadi. Komunikasi yang tidak sehat ini berbahaya jika diteruskan. Ini akan hanya menjadi ajang pembenaran tanpa saling mengkoreksi satu sama lain dan duduk bersama untuk memecahkan masalah. Permasalahannya adalah terkadang beberapa orangtua murid yang terlalu sibuk dengan aktivitas di luarnya, belum memandang sebuah pertemuan orangtua siswa ini sebagai hal yang urgen.

Memaksimalkan Komunikasi

Setelah banyaknya pemberitaan yang menghebohkan belakangan ini, seharusnya mampu mendorong pihak orangtua murid dan pihak sekolah memaksimalkan komunikasinya dalam meninjau perkembangan anak-anak dan berbagi peran yang sama-sama dipahami tentang how to be something great hingga sejauh mana yang perlu dilakukan ketika muncul kembali masalah baru di kemudian hari. Pemberitaan belakangan ini menyangkut kenakalan remaja dan akibat pergaulan yang mulai semakin tidak sehat tidak bisa di cegah dengan cara-cara lama, seperti dinasehati atau ceramah maupun disidang dengan gaya tegasnya. Anak-anak hari ini memang cukup berbeda, dimana sensitivitasnya tinggi. Tingkat kebosanan pun tinggi sehingga itulah mengapa mereka mencari cara untuk meluapkan ekspresinya atas kebebasan yang diinginkan, dan banyak menyebut anak itu berlaku nakal. Tidak hanya di sekolah terkadang suasana rumah pun dianggap sebagai penjara bagi beberapa kalangan anak karena melihat sisi kebosanan yang tinggi dan penuh aturan gak boleh begini dan begitu tanpa disertai alasan dan bahasa yang bisa diterima sesuai usianya. Perilaku adaptif orangtua dalam melihat perilaku anak-anak pada umumnya masih kurang mampu dalam membaca ketepatan atau kesesuaian, mereka lebih banyak mempertahankan ego dan sisi ideal dari alam pikirannya ataupun pengalamannya. Kesadaran untuk mempelajari dunia apa yang sedang di pahami oleh anak-anak mereka itu belum dilakukan, modal percaya memang masih menjadi pilihan utama. Ini bukan soal tidak percaya kepada anak di jaman yang sedemikian bebasnya, melainkan fungsi menciptakan generasi perlu di amati dan diperhatikan agar mengerti dimana sisi yang kurang dan dimana sisi yang berlebihan sehingga bisa di cegah apa saja yang bisa memicu pada kecenderungan yang negatif.

Kesadaran orangtua memang masih rendah, ini disebabkan zaman berubah begitu cepat dan tidak di imbangi oleh menyesuaikan diri pada perubahan yang terjadi. Maka seringkali praktik bohong dan membohongi kita dengar dari sebuah berita yang muncul bahwa si orangtua tidak percaya bahwa si anak telah melakukan penyimpangan atau tidakan yang negatif. Orangtua tidak mampu mengimbangi kemajuan zaman yang terus mengeluarkan cara berkehidupan yang lebih modern dan penuh jalan pintas. Parahnya para orangtua tetap mempertahankan idealisnya tanpa melihat bagaimana tantangan zaman, dan mungkin ini yang sering disebut oleh mereka kolot. Membawa gambaran zaman di masa lalu secara bulat yang kemudian dipaksakan untuk si anak tanpa dikemas terlebih dahulu tentu akan muncul penolakan, jika diterima pun itu hanya keluar kuping kanan-keluar kuping kiri oleh mereka. Kondisi orangtua dengan istilah bahasa gaul mereka seperti gaptek, kuper,katro, cupu, kolot dan sebagainya perlu diubah. Orangtua wajib memulai perubahan yang nyata terhadap zaman dengan memastikan kolaborasi dengan pihak sekolah berjalan dengan sungguh-sungguh dalam cita-cita yang sama menciptakan generasi yang terbaik.

Di sekolah anak-anak masih merasa kebingungan dalam menemukan passionnya. Atas ketidaktahuan atau ketidakpedulian yang muncul dalam masing-masing individunya ini perlu di hidupkan oleh peran guru, yaitu mengarahkan mereka secara mandiri menemukan siapa dirinya dan harus bagaiamana. Jadi, tidak ada lagi nanti anak-anak yang membolos sekolah karena menghabiskan waktu untuk bermain game online di warnet dekat sekolah atau membolos sekolah untuk berkumpul dengan  teman-teman motor modifikasinya dan juga membolos untuk mencoba kebiasaan-kebiasaan buruk yang didasari atas rasa penasaran yang di sekolah atau di rumah ia tidak dapatkan soal dampak buruk dan negatifnya. Diberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka bisa mengekspresikan bahwa itulah diri mereka yang sesungguhnya dan jangan lupa ditutup dengan mengapresiasinya. Ketika di sekolah mereka bisa menemukan kepuasan dan merasa inilah dunianya dan saatnya. Berbagai sarana yang disediakan oleh pihak orangtua dan pihak sekolah mampu menjawab kebosanan dan keingintahuan yang diluar dari rutinitas belajarnya dalam kelas. Orangtua yang berkolaborasi dengan pihak sekolah atas berbagi peran yang sinkron ini perlu dijaga dalam wujud sebuah komunitas. Komunitas yang merupakan wadah bersama-sama memecahkan permasalahan anak-anak di usianya dengan mengedepankan upaya-upaya yang menyesuaikan dengan zaman.

Komunitas orangtua hari ini memang bisa dikatakan sedikit atau bisa juga dikatakan mati. Hal ini terlihat di daerah perumahan warga sudah jarang ditemui kalangan orangtua berkumpul untuk membicarakan sesuatu kalau pun ada itu biasa membicarakan hal yang bersifat gosip khas orangtua di malam hari. Pos kamling atau paguyuban yang dulu sempat hidup kini meredup dan berangsur hilang. Wadah tempat dimana saling berbagi cerita dan tak jarang dari perkumpulan itu membuahkan solusi-solusi atau ide membuat sebuah hajat bersama-sama. Adanya gap antar orangtua dan anak-anak yang selalu diartikan dunia mereka berbeda. Jika dipikir secara pragmatis memang benar, namun ada kebersamaan yang harus dimaknai bersama bahwa kehidupan sosial saling melengkapi, meng-ada-kan yang satu dan lainnya sehingga semua memiliki peran dan tanggungjawab.

Bisa ditanyakan, seberapa sering komunitas orangtua saling berbagi cerita pengalamannya semasa muda kepada si anak-anak tadi, membicarakan soal kegagalan dan keberhasilan dan juga tidak kalah penting tentang keuntungan dan kerugian sehingga yang muda dapat belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kemudian juga seberapa sering komunitas anak-anak saling berbagi keseruannya di masa-masa remajanya kepada komunitas orangtua sehingga para orangtua dapat memahami dimensi baru yang anak-anak temukan dan akhirnya dua generasi ini bisa berkolaborasi soal apa saja. Dalam penguatannya mereka sudah saling memahami antar kedua komunitas ini, ini akan berdampak pada saling menunggu antar dua komunitas karena merindukan pertemuan dan sharing tentang hal-hal apa saja dari dua generasi yang mempunyai sudut pandang yang berbeda, sungguh menjadi pemandangan yang menarik. Tetapi, upaya ini harus diimbangi dengan batasan-batasan yang tetap menjaga komunikasi yang santun dan hormat sebagaimana harusnya anak kepada orangtua, bukan justru sebaliknya menjadikannya pada tataran kedudukan yang sama.

Membangun komunitas orangtua memang bukan hal yang baru, ini hanya mengembalikan semangat berkumpul yang sempat hilang entah karena zaman atau memang dari masing-masing individu orangtua yang mulai semakin sibuk dengan aktivitas-aktivitas barunya di era digital hari ini. Kehadiran komunitas orangtua yang eksis di lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal akan mampu menangkal segala bentuk perilaku menyimpang yang memungkinkan dilakukan oleh anak-anak karena fungsi pengawasan berjalan oleh komunitas orangtua. Betapa pentingnya eksistensi daripada komunitas orangtua di lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal tidak hanya menghasilkan kesadaran dan pengawasan tetapi semangat gotong-royong yang merupakan ciri khas masyarakat Indonesia menjadi hidup kembali.

Masyarakat saling bahu-membahu mewujudkan lingkungan yang terbaik dari berbagai hal,baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal. Indonesia sedang gencar mewujudkan generasi emas untuk tahun 2045 dan membangun komunitas orangtua adalah salah satu pilar dari sekian pilar yang ada untuk cita-cita mulia itu. Menjadikannya yang tua menjadi muda dan menjadikannya yang muda menjadi dewasa.

Muhammad Kasyfan – Pena Arial, sang Jakarta Muda

Kolom Komentar

comments