Love Him, Love His Job… NOT!

Kategori Love

Dialah pria yang kita impikan dan harapkan menemani kita sampai ke ujung waktu. Masalahnya hanya satu: kita membenci pekerjaannya!

Dia seolah pasangan yang begitu tepat dan sempurna bagi kita. Bicara dengan ‘bahasa’ yang sama, tertawa terhadap lelucon yang sama, sahabat-sahabatnya ‘nyambung’ dengan kita, sayangnya pekerjaan atau pekerjaan yang dijalaninya nggak bikin kita happy. Kalau sudah begitu, apa yang harus kita lakukan?

Uhm, Not That Much?

Dia bisa saja menunjukkan dedikasi yang baik terhadap pekerjaannya. Tidak pernah telat, tidak keberatan over-time, akan tetapi kok penghasilannya tidak menggembirakan? Walau sama-sama bekerja, penghasilan pasangan juga memengaruhi keberhasilan suatu hubungan, loh. Bila hendak memasuki tahap yang lebih serius, sudah saatnya kita membahas isu penghasilan ini dengan serius pula. Avy Joseph, pengamat perilaku kognitif berpendapat bahwa kita bisa saja memberikan ‘pencerahan’ bagi pasangan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik tanpa menyinggung perasaannya. “Katakan dengan halus, ‘kita bisa loh pergi ke A, atau membeli B bila kita punya penghasilan lebih dari yang kita punya hari ini.’ Jangan lupa untuk menutupnya dengan kalimat,’ Tapi aku tetap sayang kamu, kok. That’s what important.’ Hal itu akan mengangkat ego alaminya untuk bekerja lebih baik (atau mencari tempat kerja baru) di masa yang akan datang. Joseph juga menekankan pentingnya kita merefleksikan harapan kita akan hubungan itu sendiri. Mana yang lebih penting, uangnya atau si dia?

Over and Over Again

Pekerjaan memang memiliki porsi penting dalam kehidupan pria. Pekerjaan menjawab naluri alamiahnya untuk selalu berkompetisi juga sekaligus memberi nilai dan arti bagi hidupnya. Akan tetapi bagaimana bila dia terus membicarakan pekerjaannya (yang menurut kita SANGAT membosankan) terus-menerus? Cobalah untuk mendengarkan keluh-kesah atau ceritanya mengenai pekerjaannya setidaknya selama 30 menit. Tentang kebijakan baru di kantor, tentang rekan sekerja-nya yang baru mendapat penghargaan karyawan terbaik, tentang beberapa hal teknis pekerjaan yang membuatnya bingung (apalagi kita!). Cobalah memberi respon dan bangkitkan semangat si dia dengan bilang betapa kita menganggumi etos dan semangat kerjanya, selanjutnya… segeralah ganti subyek pembicaraan!

His High Stress Job

Niatnya sih sebelum tidur kita bisa mengobrol dulu di telepon dengan si dia, atau bermanja-manja saat ‘hormon’ bulanan sedang memengaruhi mood kita. Alih-alih mendapat perhatian, dia malah bersikap kasar dan mengacuhkan kita. Grrrr!

Saat sedang mengerjakan proyek penting atau memiliki pekerjaan denagan tingkat stres yang tinggi, pria akan menjadi lebih sensitif dan akan ‘menyerang balik’ siapapun yang dianggapnya mengintervensi wilayah pribadinya. Jangan heran kalau di saat-saat seperti itu, dia nggak akan segan-segan menaikkan nada suaranya, “Aku nggak bisa jemput kamu karena harus lembur. Kamu nggak mau aku dipecat gara-gara ini, kan?” Ok, dude we got it. “Tunggu sampai mood-nya membaik untuk membicarakan perasaan kita karena sikapnya. Kita mungkin tidak bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya di kantor, akan tetapi kita bisa memberitahu bahwa masalah tersebut telah memengaruhi hubungan kita dengannya,” saran Joseph.

The Colleagues Tale

Pekerjaannya mungkin baik-baik saja, akan tetapi tidak dengan pergaulannya di kantor. Kita sebal dengan rekannya yang suka mengajaknya hang out sepulang kantor (padahal ada janji nonton dengan kita), atau rekannya yang menurut kita pecicilan dan berpotensi mengganggu hubungan. Saatnya unjuk gigi, nih! Minta dia untuk mengenalkan kita pada beberapa teman-temannya di kantor saat hang out bareng misalnya. Menjalin hubungan yang baik dengan mereka juga bisa membantu kita “mengawasi” sepak-terjangnya di kantor, loh. Tidak ada salahnya sekali-sekali memberinya kejutan dengan mengirim makanan atau rangkaian bunga di hari spesial. Selain romantis, satu isi kantor akan tahu kalau… he’s taken!