Kotak Kosong, Sejarah Pilbup Pati yang Tak Terlupakan

0
606

Hasil gambar untuk kotak kosong patiKotak Kosong, Sejarah Pilbup Pati yang Tak Terlupakan – Pilkada serentak 2017 pada 15 Februari kemarin telah diadakan di 101 daerah di Indonesia. Dari 101 daerah tersebut, terdapat 9 daerah yang hanya diikuti 1 calon saja. Ini artinya calon tunggal tersebut bertarung melawan kotak kosong untuk merebut suara rakyat. Hasilnya sebagian besar menang.

Sembilan daerah dengan calon tunggal tersebut adalah Kabupaten Pati, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Tulang Bawang Barat,  Kabupaten Landak, Kabupaten Buton, Kabupaten Maluku Tengah, Kota Jayapura, Kabupaten Tambrauw, dan Kota Sorong.

Dari kesembilan daerah yang melawan kotak kosong, ada beberapa daerah yang mengalami perlawanan sengit dari Kotak Kosong. Salahsatu daerah tersebut adalah Kabupaten Pati. Kabupaten dengan jumlah penduduk padat yang memiliki DPT 1.035.904 tersebut terjadi perlawanan yang cukup mumpuni.

Sejak ditetapkankan bahwa yang melaju ke kursi Bupati hanya ada satu calon sudah tercium bahwa akan ada simpatisan Kotak Kosong. Apalagi calon yang melaju adalah seorang Petahana, pastinya rakyat sudah tahu bagaimana kinerjanya lima tahun belakangan ini.

Hasil Pilkada yang di terbitkan KPU menunjukkan H. HARYANTO, SH, MM, M.Si dan H. SAIFUL ARIFIN menang. Dengan rekapitulasi suara pemilih Haryanto sebanyak 74.51% (519.627)  dan Kotak Kosong 25.49% (177.771). Meskipun sudah dapat di ketahui bahwa Petahanalah yang menang akan tetapi ada banyak hal menarik yang dapat kita bahas.

Munculnya Relawan Kotak Kosong

Gerakan Kotak Kosong makin menguat menjelang sebulan sebelum pemilihan bupati. Pada awal Januari mulai bermunculan relawan-relawan yang mengkampanyekan Kotak Kosong. Mereka sendiri mendirikan group diskusi via facebook, ada juga via social media lain. Setidaknya ada dua kantong group yang masing-masing diisi oleh 5ribuan akun. Disana mereka sering mendiskusikan isu dan mengikuti perkembangan sosialiasi Pemilihan Kotak Kosong dari masing-masing desa.

Hasil gambar untuk kotak kosong pati

Meskipun ada yang mengatakan bahwa gerakan kotak kosong di tumpangi oleh barisan orang sakit hati. Namun bagi pandangan penulis itu hanya sebuah isu dari kubu sebelah untuk memecah suara kotak kosong. Siapa yang berani bertaruh dan memberi dana untuk kemenangan Kotak Kosong yang presentase kemenangannya kecil? Bahkan kalau Kotak Kosong pun menang belum tentu ketika ia maju akan terpilih.

Hal yang paling menarik dari Pilkada Pati adalah mereka saling bahu-membahu untuk memenangkan Kotak Kosong. Salahsatunya terdapat beberapa distro sablon kaos yang menggratiskan sablon. Bagi mereka yang ingin memiliki kaos relawan Kotak Kosong, tinggal membawa kaos polosnya untuk disablon. Mereka juga keliling dari satu desa ke desa lain, masuk keluar ke warung kopi, sambil sosialisasi sekaligus menawarkan sablon gratis.

Sablon gratis bukanlah satu-satunya cara untuk memperkenalkan Kotak Kosong. Ada beberapa hal lain mereka lakukan. Dari hal yang mudah yaitu berkampanye melalui sosial media, sampai mencetak mmt untuk dipasang di masing-masing desa, meskipun besoknya hilang secara misterius.

Melemahkan Suara Kotak Kosong

Lalu mengapa sosialiasi yang begitu gencarnya tersebut masih tak mampu mengalahkan Petahana? Usut punya usut, kubu sebelah ternyata juga memainkan strategi yang jitu. Menjelang hari pemilihan mereka makin gelapan, takut kalau tak bisa menduduki kursi bupati (lagi).

Ada beberapa isu yang dimainkan kubu sebelah. Pertama, memberikan pengertian kepada masyarakat ketika suara Kotak Kosong menang maka uang APBD Pati akan dibuat untuk menyelenggarakan Pilbup tahun depan. Kedua, memainkan isu sayembara, “Bagi barang siapa yang daerahnya unggul 75% dari kotak kosong maka akan mendapat hadiah dari Petahana.” Ketiga, membatasi gerak relawan Kotak Kosong yang melakukan sosialisasi. Pencopotan sosialisasi MMT oleh Satpol PP, dilarangnya relawan melakukan longmarch di alun-alun, sulitnya izin melakukan konvoi adalah bentuk-bentuk pengkerdilan relawan Kotak Kosong. Terakhir yang membuat telak adalah tindakan money politic itu sendiri.

Hasil gambar untuk kotak kosong pati

Andaikan tidak ada usaha-usaha yang dilakukan oleh timses Petahana, bukan tak mungkin Petahana akan terjungkal di 15 Februari lalu. Namun yang terpenting adalah rakyat Pati telah melalui pendidikan politik itu sendiri. Mereka berani memobilisasi massa untuk memilih kotak kosong. Tidak semua orang berani melakukan dan punya inisiasi hal tersebut.

Pilbup sudah berlalu, kini waktunya kembali bersatu membangun Pati. Visi Misi yang di canangkan Petahana harus dilakukan, kalau tak dilakukan ya diadakan koreksi besar-besaran. Karena Rakyat Pati bukanlah orang-orang yang sama seperti tahun lalu. Mereka telah melalui 15 Februari, yang bagi penulis adalah hari bersejarah edukasi politik di Kabupaten Pati.

 

By the way,

Mungkinkah wakilnya esok kan maju menggantikan kedudukannya ?

Tunggu saja lima tahun lagi  🙂

Kolom Komentar

comments