Jadi Pembaca Cerdas, Ditengah Suburnya “Penggorengan” Hoak dan SARA

0
57
Animasi Motion Graphic Iklan Layanan Masyarakat: Waspada Hoax/Youtube.com

Jadi Pembaca Cerdas, Ditengah Suburnya “Penggorengan” Hoak dan SARA

Bersaing atau punah. Sekarang era digital, serba cepat dan tanpa batas. Abad percepatan yang mengantarkan generasi gaul tak lagi menyukai koneksi internet lambat. Abad dimana kebanyakan orang lebih suka mengumpat, memaki, dan menghina. Abad yang serba mudah, yakni lebih mudah termakan gosip murahan, isu SARA, dan baperan. Ya, itulah masyarakat virtual.

Buktinya sederhana, lihat saja sosial media. Riset menunjukan tulisan yang paling sering dibagikan adalah tulisan-tulisan yang mengandung unsur kontroversi, kemarahan, dan kebencian. Produktivitasnya bahkan lebih banyak ketimbang mereka yang membagikan perkara kebaikan. Miris!.

Itu alasannya mengapa saat ini banyak sekali media yang lebih memilih konten dengan unsur kontroversi, hujatan, atau berbagi belas kasihan tanpa memperhitungkan HAM. Bagi mereka fakta dan data bisa diputar-putar, diplintir penuh kenikmatan. Satu kata berjuta makna. Rumus yang diterapkan sederhana, semakin banyak dibagikan semakin banyak pengunjung. Semakin banyak pengunjung semakin banyak untung, dan seterusnya.

Ingat bagi pegiat internet marketing abal-abal, “share=traffic=uang”, isi konten urusan belakangan. Sangat menggiurkan memang. Utamanya packaging, judulnya atraktif, dan penuh rasa iba, sehingga mengundang pembaca untuk membagikannya. Melihat fenomena ini tak mengherankan jika produktivitas hoak tumbuh subur, sedangkan mental verivikasi pembaca masih terus diuji.

Hmm, sialnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Informasi-informasi “murahan” dengan mutu yang rendah dan jauh dari kebenaran itu menyebar dengan sangat cepat. Terlebih, kecepatan itu tidak diimbangi dengan kecepatan berpikir, analisa, dan cross check dari pembacanya. Alhasil, konten tersebut tumbuh subur bak jamur di musim hujan.

Membaca Itu Kegiatan Intelektual

Ingat, membaca merupakan kegiatan intelektual. Itupun, dengan bacaan dan informasi yang berkualitas. Namun, lagi-lagi disayangkan, saat ini kebanyakan tak lagi menggunakan logika berpikirnya dengan mantap. Bacaan dan informasi rendahan dengan bangga dan tak sadar disebarkan karena menyinggung sentimen identitasnya.

Kekhawatiran ini nampaknya pernah juga dirasakan oleh Albert Einsten, katanya seseorang yang membaca terlalu banyak dan menggunakan otaknya terlalu sedikit akan menjadi kebiasaan malas untuk berpikir. Itulah mengapa budaya kritis dan cross check kebenaran dalam membaca menjadi sangat penting. Sehingga, nantinya pembaca dapat menangkap makna dalam bacaan secara utuh dan berkesinambungan.

Jadi, mulailah dengan membaca, budayakan kritis analitis, dan jangan malas mengecek kebenarannya. Amir (1996) tegas mengatakan bahwa dengan banyak membaca kita dapat meningkatkan kadar intelektualitas, membina daya nalar kita. Jelas bahwa, membaca akan menggerakan diri menjadi pribadi yang kaya akan wawasan, namun ingatlah jangan sampai kita hanya menjadi intelektual semu dan menjadi kambing untuk di adu. Sementara, para pengelola media yang kurang bertanggung jawab dapat untung miliaran.

Singkirkan Media Abal-abal

Terkesan sadis memang, menyingkirkan mereka yang tengah mencari ladang penghasilan. Namun, perlu digaris bawahi pula bahwa mereka juga telah merampas hak banyak orang untuk kepentingan pribadinya. Jalur pencarian mereka dalam menjual konten tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Langkah dan modus media abal-abal sebenarnya amat mudah untuk ditandai, sadarkah kita bahwa biasanya konten hoax berawal dari postingan di media sosial atau blog-blog yang tidak jelas pemiliknya? Penyebar hoak menyadari bahwa konten mereka, tidak mungkin mampu bersaing dengan brand-brand kenamaan macam detik, tribunnews, kompas, hingga tempo yang lazimnya dikunjungi via Uniform Resource Locator (URL). Sehingga mereka lebih memilih melepasnya di sosial media.

Untuk memverivikasinya mudah, tinggal ketik dan cari saja dalam media-media kenamaan di Indonesia. Jika ditelusuri informasi hoak presentasinya sangat rendah untuk dimuat di media yang jelas kredibilitasnya. Karena media kredibel dipastikan selalu melakukan cek dan ricek informasi sebelum mempostingnya. Namun, tidak menutup kemungkinan ada juga yang demikian.

Menandai media abal-abal cukuplah mudah. Pertama, media abal-abal bisa dipastikan tidak jelas nama, alamat, dan rujukannya. Kedua, media aneh macam ini (red, abal-abal) juga suka menggunakan judul-judul atraktif dengan umpan balik, misalnya menggunakan istilah “Inilah, Wow, Terungkap, Ini Dia, Bigini…”, dan masih banyak lagi. Terakhir, biasanya media ini banyak muncul dikala kontelasi politik sedang memanas misalnya saat pemilu maupun ditengah munculnya kebijakan baru. Biasanya pula isu yang dibawa tidak jauh dari unsur SARA, maupun identitas tertentu.

Pamungkas, mengutip apa yang pernah diungkapkan seorang filsuf kenamaan Cina, Lin Yut’ang, bahwa orang yang tidak mempunyai kebiasaan membaca yang baik, akan terpenjara dalam dunianya, baik dalam segi waktu dan ruang. Maka, tidak ada kata terlambat untuk menyebarkan kebaikan. Sekarang, mari melatih diri berproses menjadi pembaca cerdas. Sekian!.

Kolom Komentar

comments