Hoax Merajalela, Ini Cara Gus Mus Menghadapinya

0
275

SEMARANG – Belakangan ini berita bohong atau hoax telah menjadi ancaman bagi keutuhan bangsa. Banyak orang-orang yang peduli dengan kabar bohong namun kewalahan membentengi arus hoax yang begitu deras. Namun tetap banyak cara yang bisa dilakukan untuk memerangi hoax.

Ulama sekaligus sesepuh ormas islam terbesar di Indonesia KH Mustofa Bisri atau Gus Mus merespon fenomena hoax yang terjadi belakangan ini. Dalam agama, sudah dianjurkan bagaimana menangani persoalan, termasuk soal hoax.

Dalam pandangan agama, hoax biasa dianggap sebagai perbuatan buruk (munkar). Untuk mengatasi persoalan yang bersifat munkar, ada tiga cara yang bisa digunakan. Cara-cara itu sudah ada sejak lama, bahkan saat ia belum lahir.

“Rasul itu menyatakan kalau lihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu, lalu mulutmu, lalu hatimu. Hatimu ini yang paling lemah,” kata Gus Mus, dalam sarasehan anti hoax di Wisma Perdamaian Semarang, Kamis (20/4/2017).

Menurut Gus Mus, ahli tafsir sudah mengartikan tata cara itu. “Ubahlah dengan tangan” misalnya, bisa diartikan dengan mengubah dengan cara kekuasaan. Pihak kepolisian misalnya yang mempunyai kekuasaan bisa melakukan penindakan atas pelaku-pelaku penyebar hoax.

Polisi tidak perlu memberikan ancaman pasal yang ada dalam undang-undang yang mengatur hoax. Pemerintah juga diminta langsung merespon hoax, dengan tidak terus-terusan memberikan imbauan kepada masyarakat. Karena polisi dan pemerintah itu mempunyai kekuasaan.

“Pemerintah mengimbau, itu kayak ulama. Pemerintah punya kekuasaan, pegang saja siapa yang nyebar,” kata dia.

Soal “ubah dengan mulut” dilakukan tanpa kegiatan atau aksi. Cara mengubah ini bisa diwakili melalui DPR. Jika DPR ikut melakukan demo, maka justru hal demikian merupakan hal yang tidak pantas.

“Siapa yang bisa pakai mulut? ya DPR. Kalau DPR ikut demo itu gak pantas. Demo itu karena macet saluran aspirasinya. DPR tugas menyalurkan kok ikut demo,” kritiknya.

Pemimpin agama juga bertugas menyampaikan pesan. Persoalan yang ada disampaikan kepada Pemerintah agar diselesaikan. Pemimpin agama bisa berbicara meminta polisi menyelesaikan.

“Kalau gak bisa semua pakai hati, bisanya ngelus dada,” tambahnya.

Lantas bagaimana cara menangkal hoax? Menurut Gus Mus, sepatutnya masyarakat saat ini tidak boleh terus mengalah. Masyarakat yang sehat tidak perlu mengalah.

“Kalau sebagai ulama jangan eksekusi, tapi minta pada Pemerintah. Kalau ingin partisipasi berantas hoax, pelajari aturan, sampaikan. Kalau tidak peduli, berarti tidak peduli dengan kesatuan bangsa,” kata pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Tolibin Rembang ini.

Kolom Komentar

comments