Guru dan Tantangan Generasi Millennial

0
138
sumber diakses via Finspi.com

Generasi Millennial Potensi dan Tantangannya

Millennial, demikian istilah yang gatuk dengan generasi anak yang lahir dalam rentan tahun 1980-an hingga 2000-an. Istilah yang popular menggantikan istilah generasi Y (Gen Y). Ya, merekalah muda masa kini yang berusia dikisaran 15-34 tahun.

Tumbuh dan berkembang di era perkembangan teknologi dan komunikasi tentu saja menjadikan anak-anak muda ini mengalami transformasi karakter, gaya hidup, dan identitas diri yang unik. Pew Research Center menyebutkan bahwa ada karakter yang sangat mencolok dari generasi millinneal jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, yakni kehidupan mereka yang tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi dan budaya pop.

Menengok dalam negeri, saat ini di Indonesia ada sekitar 34,45% jumlah penduduk yang tergolong generasi millineal. Tidak jauh berbeda dengan masyarakat dunia pada umumnya, karakteristik generasi millinneal di Indonesia juga menunjukan geliat yang sama akan penggunaan teknologi dan budaya pop. Tentu saja, jika dibandingkan dengan karakteristik generasi sebelumnya hal ini telah menunjukan adanya perubahan yang mendasar.

Perkembangan teknologi dan informasi dianggap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan generasi millinneal. Bahkan, bisa dikatakan alat-alat high technology telah menjadi bagian pokok dari kehidupannya. Misal saja, banyak kita temui dimana seseorang yang akan berpergian dan kemudian lupa membawa HP, kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Tentu saja, banyak yang akan kembali untuk mengambil HP tersebut. Adapula, seseorang yang kemudian ‘galau’ jika tidak update status di sosial media, dan tentu saja masih banyak contoh lainnya.

Tidak sebatas itu, generasi millinneal juga kebanyakan menggandalkan kecepatan yang serba instan, sehingga real time menjadi prasyarat utama bagi generasi ini. Bukan tanpa masalah, jika ini terus menerus terjadi maka yang akan terjadi adalah banyak anak muda yang cuek terhadap kehidupan sosial. Bahkan, hal ini akan bertendensi pada pembentukan karakter anak yang kurang menyukai komunikasi verbal langsung, bersikap individualis dan egosentris, ingin hasil yang instan, serba mudah, serta tidak mampu menghargai proses.

Melihat kondisi demikian memang tidak serta merta perkembangan generasi millinneal identik dengan sifat karakteristik negative. Sifatnya yang multifaset memang menjadikan sebagian orang berbeda-beda dalam merespon perkembangan generasi millennial.

Dalam dunia pendidikan sendiri, perkembangan generasi millineal saat ini tengah memasuki pendidikan menengah atas dan tinggi. Namun, implikasinya benar-benar sangat terasa dimana, banyak guru yang kemudian merasa ‘galau’ dalam menanggapi perkembangan generasi yang satu ini. Disatu sisi banyak guru yang menginginkan anak didiknya tidak gagap teknologi, namun sisi lainnya mereka juga tidak menghendaki perkembangan teknologi disalahgunakan.

Selain itu, disatu sisi banyak guru menginginkan anak didiknya memahami berbagai fenomena yang kompleks dan dinamis dalam masyarakat. Namun, disatu sisi anak lebih menyukai hal-hal yang aplikatif dan menyenangkan yang bersifat modern.

Tentu saja, masih banyak hal-hal lain dalam kondisi factual yang perlu dipertimbangkan sebagai seorang guru selaku pendidik dalam proses pendidikan generasi millinneal yang mulai meranjak pada kehidupan dewasa ini. Yang jelas dari pertimbangan-pertimbangan tersebut intinya bermuara pada pelayanan pendidikan yang cocok dan tepat untuk memberdayakan dan membudayakan generasi millinneal menjadi pribadi dengan karakter yang kuat.

Guru/sumber diakses via jpnn.com

Guru dan Langkah Millennial

Guru sebagai sosok yang dianggap berperan penting dalam proses pembentukan karakter anak, tentu saja harus bekerja ekstra keras. Hal ini lantaran, generasi millinneal tidak lagi seorang anak yang bisa diatur ini dan itu dengan sebuah paksaan. Namun, harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Beberapa hal bisa dilakukan secara efektif misalnya, pertama guru harus bisa menjadi role model dan berpegang teguh pada nilai-nilai kearifan local, namun harus tetap terbuka dan memiliki pemikiran yang tidak konvensional.

Kedua, ingat diawal diungkapkan bahwa generasi millinneal merupakan generasi yang amat gandrung pada perkembangan teknologi. Sebagai guru tentu saja, bisa dilakukan dengan mencoba bermanuver dalam perkembangan teknologi. Misalnya dengan memanfaatkan media sosial untuk melakukan proses pendidikan. Hal ini akan sangat efektif untuk menekan dampak negative dari penyebaran informasi melalui sosial media. Contohnya, langkah yang diambil oleh Akhmad Sudrajat (2009), menggagas tentang Konseling FaceBook di Sekolah, yang intinya tentang upaya memanfaatkan kehadiran FaceBook untuk mendukung efektivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Ketiga, lakukan proses pendidikan yang fleksibel dan lebih efektif dengan pikiran terbuka, serta mengakui tidak ada cara tunggal yang benar untuk mengembangkan karakter anak. Ketersediaan buku-buku (dan internet) memberikan kekayaan sumber daya, ide-ide pengasuhan yang berbeda, dan perspektif budaya yang beragam. Dari situ mereka dapat mempertimbangkan segala macam informasi dan opini untuk menciptakan gaya mendidik sesuai dengan kebutuhan anak masing-masing.

Keempat, guru hendaknya melakukan pendekatan dengan mengutamakan pendekatan yang rileks dan responsif terhadap anak. Mereka menghargai waktu bermain yang tidak terstruktur, sama pentingnya dengan aktivitas yang lain. Mereka juga memberikan anak ruang yang mereka butuhkan untuk belajar dan tumbuh secara mandiri. Selain itu, guru hendaknya mampu menerapkan relasi pembelajaran yang lebih demokratis. Plus, guru jangan lupa menekankan fokus baru pada empati, untuk membantu anak berinteraksi dan memahami dunia mereka dengan baik.

Secara umum, inilah langkah millennial yang bisa dilakukan oleh guru untuk membangun karakteristik generasi anak yang sudah berkembang akibat dari heterogenitas dan keterbukaan pikiran akan pengetahuan dan teknologi. Namun, apapun langkah yang dilakukan oleh guru dalam menyikapi perubahan generasi millennial pastikan itu adalah cara terbaik membuat anak didik nantinya bahagia dan berkarakter.

Kolom Komentar

comments