Elektabilitas Tertinggi Bukan Jaminan Jalan Ridwan Kamil Mulus

0
65

Pilkada Jabar masih setahun lagi, namun hiruk pikuknya sudah mulai terdengar seantero Indonesia. Baru-baru ini Lembaga Survei Barometer mengeluarkan rilis hasil survei tingkat elektabilitas beberapa bakal calon kuat yang diperkirakan akan meramaikan bursa Pilkada Jawa Barat 2018. Rilis tersebut menempatkan Ridwan Kamil diurutan pertama dengan perolehan 9,4 persen pemilih disusul oleh disusul Dedi Mulyadi dengan 3,6 persen, Dede Yusuf 3,5 persen, dan Deddy Mizwar 2,9 persen. Sedangkan, 77,1 persen warga Jawa Barat belum memiliki sosok yang akan dipilih ketika Pilkada nanti.

Hal tersebut, menjadi indikator awal bahwa Kang Emil panggilan akrab Ridwan Kamil memang dikenal oleh masyarakat Jabar. Tentu ini menjadi tugas berat bagi lawan partai untuk memunculkan tokoh yang dapat menandingi elektabilitas Kang Emil. Hingga saat ini, baru satu partai yang telah mendeklarasikan diri mendukung Kang Emil maju sebagai Gubernur Jabar yaitu Partai Nasedem. Santer beredar kabar bahwa PDIP juga akan merapatkan posisi mendukung Walikota Bandung ini.

Memiliki elektabilitas tinggi bukanlah jaminan jalan Kang Emil menjadi orang nomor satu di Jawa Barat akan mudah. Belajar dari Pilkada DKI Jakarta, bahwa elektabilitas yang tinggi akan dengan mudah terdistorsi oleh isu dan konflik kepentingan yang dimanagement secara terstruktur, sistematis, dan masif oleh partai-partai lawan Kang Emil. Baru menunjukkan gerak gerik akan mencalonkan diri saja, Kang Emil sudah diterpa oleh berbagai isu tak sedap, mulai dari tuduhan syiah, tidak perhatian dengan ummat islam, hingga isu memberikan izin pembangunan kepada 300 rumah ibadah non muslim di Kota Bandung.

Pada Pilkada 2013, Kang Emil diusung oleh PKS dan Gerindra. Meskipun demikian, Kang Emil bukanlah kader partai. Nampaknya, hal berbeda akan terjadi pada Pilgub Jabar tahun depan. Hingga saat ini PKS dan Gerindra belum menentukan sikap untuk mendukungnya kembali. Apalagi belakangan ini Kang Emil terlihat mesrah dengan Nahdlatul Ulama. Meskipun NU tidak berpolitik praktis, namun kedekatannya dengan NU menimbulkan sakit hati oleh partai pengusungnya saat mencalonkan diri sebagai Walikota Bandung.

Kita ketahui bahwa PKS dan Gerindra merupakan ahli strategi yang jitu, buktinya dia dapat menumbangkan petahana sekuat Ahok pada Pilkada DKI Jakarta. PKS dikenal memiliki kader-kader yang tertanam diberbagai elemen, mulai kampus hingga pesantren. Kader-kader PKS sangat militan untuk menjalankan instruksi dari Partai. Apalagi isu sara masih laku keras untuk digoreng dan dijual kembali.

Kolom Komentar

comments