Cinta Berbalut Luka “Kisah Cinta Ratu Kalinyamat”

0
316

IMG_3688

Cinta Berbalut Luka “Kisah Cinta Ratu Kalinyamat” –  Ratu kalinyamat merupakan putri dari bupati jepara yang mempunyai nama asli retna kencana, ia di juluki sebagai ratu kalinyamat ketika menikah dengan win-tang seorang pemuda yang mendirikan desa kalinyamat yang saat ini berada di wilayah kalinyamatan, sehingga pemuda tersebut dikenal sebagai pangeran kalinyamat atau pada sekarang ini lebih dikenal sebagai pangeran hadiri

Win-tang merupakan pemuda dari aceh yang memiliki nama asli pangeran toyib, putera sultan mughayat syah raja aceh (1514-1528) pangeran toyib atau win-tang berkelana ke tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama win-tang merupakan ejaan jawa untuk Tjie Bin Thang.

pada tahun 1549 Suunan Prawata yang menjadi raja keempat Demak mati dibutuh oleh utusan Arya Penangsang. Ratu kalinyamat menemukan keris Kyai betok milik Sunan Kudus menancap pada masayat kakanya itu,maka, pangeran dan ratu kalinyamat langsung berangke kudus minta penjelasan menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pengaran Sekar Seda lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia mendapat balasan setimpal.

Ketika perjalanan pulang ke jepara, mereka di keroyok anak buah Arya Penangsang. Pengeran Kalinyamat tewas kala itu dengan membawa jenazah pangeran kalinyamat pria yang sangat dicintainya ia meneruskan perjalanan sampai disuatu sungai yang deras dan darah yang berasal dari jenazah Pangeran Kalinyamat menjadujan air sungai berwarna ungu. Semakin kebarat dan dalam kondisi yang lelah, semakin berat langkah kaki untuk melangkah Ratu Kalinyamat tetap membawa suaminya (Pangeran Kalinyamat) untuk sampai di mantingan meskipun di tengah jalan mayat dari suaminya sudah mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Akibat peristiwa pembunuhan itu, ia memutuskan untuk bertapa di gunung danaraja tanpa sehelei benangpun, dengan bersumpah tidak akan berpakaia sebelum berkeset pada kepala Arya Penangsang. Ritual itu berakhir ketika Sultan Pajang menghadap Ratu Kalinyamat sambil membawa penggalan kepala Aryo Penangsang dan semangkok darahnya.

Aryo Penangsang berhasil dibunuh Sultan Pajang yang bernama Raden Hadiwijaya, melalui senapati perangnya Danang Sutowijoyo (putra Ki Gede Pemanahan), dalam pertarungan di tepi bengawan antara Cepu dan Blora. Tubuh Adipati Jipang Panolan itu dicabik-cabik dan serpihan tubuhnya ditanam terpencar-pencar di berbagai pelosok Jawa Tengah. Kepala Aryo Penangsang benar-benar digunakan untuk keset oleh Nyi Ratu Kalinyamat, dan darahnya digunakan untuk keramas. Setelah puas, kepala Aryo Penangsang dibuang ke sebuah kolam yang terdapat di Desa Mantingan.

 

Kolom Komentar

comments