Candu Presiden

0
36

Tahun 2019 masih dua tahun lagi tapi hasrat untuk berkuasa di pucuk republik ini sudah begitu terang-benderang. Jauh-jauh hari genderang perangnya sudah ditabuh bertalu-talu. Penabuh genderangnya pun itu-itu saja, yang sudah belasan tahun tak henti mengejar jabatan Presiden, seolah-olah hanya kekuasaan itu saja yang ada dalam benaknya.

Saya membaca sekilas berita tentang orasi tokoh reformasi 1998, Amien Rais, yang mengatakan: “Untung saja Anies-Sandi menang. Jadi pelengseran Jokowi bisa saya tunda.”

Boleh jadi, peran besar Amien Rais menggalang poros tengah di DPR untuk memakzulkan Presiden Abdurrahman Wahid dulu, menjadi nostalgia yang begitu membekas. Ia lupa, sekarang pemilihan presiden secara langsung, dan ia sendiri yang pernah terjun ke palagan itu tersingkir di putaran pertama.

Tapi kekuasaan itu memang candu. Jangankan kekuasaan, perjalanan mengejarnya pun sebuah kenikmatan. Orang bisa merawat nafsu untuk berkuasa berpuluh-puluh tahun lamanya.

Apalagi jabatan Presiden, sebentuk posisi serupa mahligai. Sejak Indonesia terbentuk 71 tahun lamanya, baru tujuh orang yang tiba di posisi itu, tidak semuanya duduk karena kehendak rakyat. Beberapa di antaranya jadi Presiden karena “kecelakaan sejarah”. Tapi tujuh orang itu mau tidak mau menjadi Presiden karena kehendak zaman.

Di saat yang sama, ada 34 orang berpangkat gubernur di Indonesia. Ada ribuan orang pernah jadi gubernur terpilih, ditunjuk, pelaksana tugas, penjabat, dan sebagainya semenjak Indonesia merdeka.

Kekuasaan bukanlah segala-galanya. Yang utama adalah legacy, kerja-kerja besar yang mengendap di memori orang banyak. Bukan foto dalam pigura di dinding istana bahwa seseorang pernah duduk di singgasana itu.

2019 dua tahun lagi. Presiden Jokowi masih bekerja keras, hari ini di Jawa, besok di Sumatera, lusa di Maluku, tulat di Kalimantan, tubin di Papua — “membangun Indonesia dari pinggiran”.

Saya belum mendengar gerakan nyata atau ucapan Presiden Jokowi tentang masa depan jabatan yang kini di tangannya.

Tapi kekuasaan itu memang candu. Dan karena itulah selalu ada orang yang punya gairah berlebih merawat hasrat untuk berkuasa, dan tak jeda menujukan hidupnya ke sana.

 

Ditulis oleh Tomi Lebang, di dalam akun facebooknya pada 23 April 2017.

Kolom Komentar

comments