BEM SI, BEM Semen Indonesia?

0
578

Ada hal yang cukup istimewa dalam Rakernas (Rapat Kerja Nasional) yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa – Seluruh Indonesia (BEM SI) pada tahun 2017 ini. Rakernas yang mengambil tema besar “Optimalisasi Pemuda Dalam Membangun Bangsa” ini menghadirkan pembicara dari pihak PT SI (Semen Indonesia) yang saat ini tengah berkonflik dengan masyarakat Pegunungan Kendeng.

Perwakilan PT SI dalam Rakernas BEM SI tersebut menghadirkan tema pembahasan berjudul “Proyek Pabrik Semen Rembang: Optimalisasi Pembangunan Pabrik Semen Rembang Berbasis Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat”. Pihak PT SI kurang lebih ingin mengatakan bahwa untuk mengoptimalisasi peran pemuda dalam membangun bangsa salah satunya dapat dilakukan dengan mendukung pembangunan pabrik semen di Rembang. Dasar pembenaran yang dilakukan adalah klaim bahwa Pabrik PT SI di Rembang dibangun dengan berbasis ekologi yang ramah lingkungan dan itu dapat mensejahterakan masyarakat sekitar.

Dalam Rakernas BEM SI ke X tahun 2017 ini diikuti hampir 100 BEM dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah sebelum mereka melakukan “Aksi Bela Rakyat” 121 pada 12 Januari 2017 diberbagai daerah apakah selanjutnya mereka akan melakukan “Aksi Bela PT SI”?

Kehadiran perwakilan PT SI dalam Rakernas BEM SI ini menunjukan inkonsistensi dan rapunya idiologi keberpihakan mereka. Para mahasiswa ini seringkali melabeli diri mereka sebagai tulang punggung bangsa, iron stock, atau agent of change, namun mereka membiarkan dan malahan memberi panggung pada PT SI yang merupakan industri perusak lingkungan melakukan orasi di Rakernas mereka.

Sementara disisi lain perjuangan masyarakat Kendeng yang telah berlangsung lama malahan disingkirkan dan tidak diberi ruang dalam pembahasan. PT SI datang diberi karpet merah untuk memaparkan maksud-maksud baiknya. Akan tetapi mereka tidak berpikir sedikit kritis tentang maksud baik itu untuk siapa? janji kesejahteraan itu yang akan sejahtera sebenarnya siapa?

Mungkin alangkah baiknya jika orang-orang BEM SI ini membaca petikan puisi “Sajak Mahasiswa” dari Rendra berikut:

………………………………………………
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”

Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?

Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana !
……………………..

Jika tidak ada klarifikasi, pernyataan sikap, dan aksi menentang PT SI dan membela rakyat Kendeng dari BEM SI, maka sudah pasti mereka berpihak pada PT SI. Mereka jelas menjadi musuh rakyat karena membiarkan pertanyaan-pertanyaan perlawanan dari petani Kendeng membentur meja kekuasaan yang macet. Sementara diam saja ketika papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan yang membuat keberpihakan mereka seperti itu. Artinya mereka sedang berpijak untuk menjadi bagian dari alat penindasan.

 

Sumber : Akun Facebook Boemi Mahardika

Kolom Komentar

comments