Belajar Keberagaman pada Serial Animasi Upin Ipin

0
128

Belajar Keberagaman pada Serial Animasi Upin Ipin, Dalam dunia ini kemajemukan adalah keniscayaan. Setidaknya itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan betapa kompleksitas dunia yang diisi oleh beragam perbedaan manusia yang ada didalamnya. Bahkan Tuhan saja menciptakan manusia berbeda bukan seragam itu sebagai bukti kekuasaan Tuhan Yang Maha Dasyat. Mengulur lurus dari itu, kita sadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang dibangun diatas keberagaman, yang saling mengisi diantara ruang-ruang kebangsaan, menjadi partikel-partikel yang saling mengisi dalam rumusan kebhnikeaan.

Kontekstualisasi keberagaman bangsa Indonesia terdiferensiasi kedalam berbagai macam sendi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, mulai dari kepercayaan, agama, bahasa, adat istiadat, lingkaran hukum, ras sampai suku bangsa yang jumlahnya ratusan, belum lagi perbedaan-perbedaan dalam skrup yang lebih kecil misalnya satu suku saja memiliki dialektika bahasanya berbeda, contohnya suku jawa, ada bahasa jawa halus, bandek sampai ngapak. Perbedaan-perbedaan yang ada itu kemudian melebur kedalam konsep satu nama yaitu Indonesia.

Founding Father bangsa ini telah menyadari bahwa pluralitas bangsa ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, ini dibuktikan bahwa semboyaan kebangssaan “Bhineka Tunggal Ika” bukanlah muncul pada saat persiapan kemerdekaan tapi telah tertulis dengan rapi dalam Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular yang hidup pada masa kerajaan Majapahit. Artinya secara historis kemajemukan bangsa ini bukanlah sesuatu yang baru saja disadari, tetapi telah tumbuh dan berkembang pada saat kesadaran atas nama Indonesia itu belum ada.

Diabad Ke-21 isu perbedaan kemudian semakin meruncing ditengah maraknya etnosentrisme dan ego sektoral yang tidak bisa memahami keberagaman, membuat mereka semakin tebal dengan nir-toleransi. Semua itu akhirnya bermuara pada konflik SARA yang semakin bermunculan dewasa ini.  Namun lagi-lagi bangsa kita masih punya banyak tokoh pluralisme yang berjuang untuk kemanusiaaan, salah satu contohnya adalah  Presiden RI ke-4 Almahum Almargfullah KH. Abdurahman Wahid atau yang familiar dipanggil Gus Dur. Peran beliau dalam mendengungkan dan mengkampanyekan kesadaran keberagaman mengantarkan sang guru bangsa ini layak dan pantas disebut sebagai bapak pluralisme. Berbagai kebijakan yang dulunya memarjinalkan, namun pada saat beliau memerintah Republik ini justru semakin dihilangkan, contohnya pengakuan terhadap agama Kong Hu Cu, meresmikan hari raya imlek (pada awalnya masih fakultatif), memberi otonomi kepada dan penamaan Papua, dan beberapa kebijakan yang pada masanya dianggap “nyleneh” tapi pada era sekarang ini justru diakui sebagai suatu kemajuan terhadap pengakuan persamaan.

Mendiaspora kesadaran keberagaman, semestinya dilakukan secara masiv untuk mencegah adanya konflik sara, radikalisasi ataupun makar, dapat melalui berbagai saluran pendidikan, media massa baik cetak eletronik. Selama ini dalam aspek pendidikan belum masuk dalam mata pelajaran khusus, hanya ada beberapa sub bab, padahal pendidikan mutikultural dalam konteks ke Indonesiaan sangatlah penting dan dibutuhkan. Dalam media massa dan elektronik juga genderang ajaran toleransi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa jarang sekali disuguhkan. Kemajuan teknologi dan informasi ditengah arus globalisasi juga tidak dapat dimaksimalkan dengan baik oleh para stockholder. dibidang pertelevisian yang sekarang sudah menjangkau diseluruh penjuru negeri. Justru berbagai tayangan televisi yang ada banyak didominasi oleh tayangan sinetron yang kurang mendidik dan lebih mengutamakan soal rating dan keuntungan pasar. Padahal penikmat sinetron adalah kebanyakan usia anak-anak sampai remaja, tentu sangat reliable apabila kampanye tentang keberagaman, kemajemukan maupun pluralitas dibungkus secara menarik dalam program pendidikan multikultural.

Belajar pada Upin-Ipin

Malaysia adalah Negara tetangga yang juga penduduknya cukup beragam seperti melayu, Tionghoa, India, meskipun tak se kompleks Indonesia, tetapi mereka punya cara jitu untuk mengkampayekan nilai-nilai toleransi pada anak-anak maupun remaja salah satunya melalui program serial kartun Upin-ipin. Ternyata serial inipun laris manis tayang di Indonesia dan juga banyak penikmatnya dari berbagai kalangan, karena kartun ini dianggap lucu, gurih dan tentu menjadi alat belajar yang efektif –jika menonton ini didampingi orang tua-.

Serial kartun animasi Upin-Ipin menceritakan kehidupan anak kembar yang usianya masih belajar pada Taman Kanak-kanak. Bagaimana kehidupan dua bocah kembar ini di rumah, di sekolah sampai di tempat bermain. Semuanya memiliki makna tersurat yang menjadi pesan moral bagi pemirsanya. Sekilas memang terlihat biasa saja seperti anak-anak Indonesia pada umunya, tapi jika kita cermati lebih jauh ada nilai-nilai toleransi yang dibangun disana.

Nilai toleransi itu yang paling kental adalah saat adegan di sekolah, bagaimana kemudian Upin dan Ipin sebagai representasi warga Malaysia bersekolah bersama dengan orang india yang diwakili Jarjit Singh, bertemu Memey sebagai perwakilan kalangan etnis Tionghoa serta beberapa nama seperti Mail, Fizi dan Ehsan, yang juga seorang Malaysia, juga ada nama Susanti yang datang dari Indonesia. Mereka dengan mudahnya membaur dalam satu kelas dengan gaya asli suku masing-masing, Jarjit dengan suku Indianya, Memey yang bangga akan identitas Tionghoanya dan tentu Upin dan Ipin dkk yang gagah dengan asli melayunya.

Namun semuanya tak pernah berselisih paham soal perbedaan itu, justru mereka hidup berdampingan bahkan tidak hanya disekolah tetapi justru ditempat bermainpun mereka semakin asyik dengan perbedaan itu. Menariknya ada beberapa adegan yang juga mengajarkan toleransi umat beragama, contohnya ketika Upin dan Ipin berpuasa di bulan Ramadhan dan merayakan lebaran justru memey dan Jarjit juga ikut menikmatinya, dan ketika memey  sibuk dengan upacara maupun perayaan keagamaan yang diyakininya, juga upin, ipin dkk terlihat juga menyambangi kediaman memey. Serial ini mengajarkan kita bahwa kepolosan anak-anak yang berteman tanpa syarat (entah itu syarat agama, kepercayaan, suku bangsa, dsb) harus diutamakan. Berbaurlah kita sebagai umat manusia, begitulah kira-kira pesan moral yang ingin disampaikan. Perbedaan harus dihormati bukan untuk menjauhkan tapi justru untuk mensykuri Khazanah Tuhan YME.

Sebagai bangsa Indonesia yang penuh dengan indahnya kemajemukan rasanya kita jenuh akan sinetron, serial kartun ataupun film layar lebar yang isinya hanya soal permasalah hidup bahkan didominasi soala asmara dan percintaan. Berbagai film serial sinetron justru muncul dengan judul yang cukup aneh dengan abtraksi yang sangat tidak jelas, belum lagi adegan-adegan kekerasan yang sangat rentan ditiru anak-anak. Persoalan ini semakin rumit dengan ditambah jam tayang sintron televisi adalah jam  kisaran 18.30-21.00, padahal ini adalah jam belajar anak-anak. Uniknya mayoritas orang tua tidak menyadari hal itu justru mereka larut bersama menikmati suasana adegan-adegan yang membahayakan psikologis mereka.

Akhirnya kita sadar memang berada dalam arus globalisasi, namun kita juga harus sadar identitas kita sebagai bangsa  majemuk. Tontonan televisi adalah bagian dari derasya era kejaegadan, namun alangkah eloknya kalau kemudian itu menjadi sarana mendidik anak-anak yang notabene adalah generasi masa mendatang dengan totonan yang berkualitas yang sadar akan pribadinya, lingkungannya dan bangsanya dengan segenap tanggung jawabnya. Mulai sekarang  jangan biasakan anak-anak “nongkrong” sehabis maghrib di depan televisi, sementara ruang belajaranya hampa, meja belajarnya rapid an sunyi, serta buku pelajarannya dan segenap PR nya kesepian tanpa sentuhan.

Ulul Mukmin, S.Pd – Pegiat Komunitas Lingkar Studi Demokrasi dan Kepemimpinan

Kolom Komentar

comments