Aktivis HTI Sumut Sebut Pergerakan Mahasiswa dan Ideologi Pancasila Tidak Penting

0
1277

DPD II Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Sumut, Lajnah Khusus Mahasiswa mengadakan agenda round table discussion dengan tema “Khilafah-Visi Pergerakan Mahasiswa Bela Rakyat”, pada Minggu, 23 April 2017, di Amaliun Food Court ruang VIP II, Medan.

Acara dibawakan oleh Nurul Ismi Haq dari UMSU, yang menyambut para aktivis dari berbagai gerakan kampus. Acara dibuka dengan pemutaran video mengenai realitas mahasiswa saat ini dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an oleh Maghfiroh Mendrofa dari UMN.

Sesi round table discussion dipandu oleh Veronicha, ST dan narasumber yang membawakan sesi ini adalah ustadzah Rinie Elmaya R, SS.

Ustadzah Rinie Elmaya menceritakan aksi yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa se-Indonesia (BEM SI) pada tanggal 12 Januari lalu menanggapi kebijakan pemerintah dalam berbagai bidang yang memberatkan masyarakat merupakan bentuk bangkitnya sikap kritis mahasiswa di tengah pragmatisme.

“Namun perjuangan dengan berharap pada jalur demokrasi hanya akan berakhir sebagai wacana sebab hukum demokrasi merupakan hukum buatan manusia sehingga kebijakan yang diambil akan sesuai dengan kepentingan penguasa,” kata Rinie.

Menurutnya, pergerakan mahasiswa hanya dibajak untuk kepentingan rezim dan kekuasaan. Jalan demokrasi bukan jalan pergerakan rakyat karena demokrasi adalah sistem yang bisa digerakkan oleh sebagian kelompok penguasa karena pembuat hukumnya adalah manusia.

“Hanya dengan sistem Islam, perjuangan bela rakyat akan tercapai karena tidak adanya intervensi manusia dalam mengatur hukum, yang membuat hukum hanya Allah SWT yang memahami kehidupan manusia,” ungkap Rinie.

Dalam sesi diskusi, Nurliani Hatta dari Himadita Nursery USU bertanya, “Apakah ada dalil yang mengatakan Rasulullah saw modal ngomong?”, Ustadzah Rinie Elmaya menjawab bahwa maksud “modal ngomong” bukanlah omongan yang sia-sia tetapi yang bersumber dari wahyu Allah, dalilnya seperti yang terdapat dalam surat Ali-Imran 104,”Hendaklah ada sebagian orang yang mencegah dari yang mungkar dan menyeru kepada kebajikan”, serta sampaikanlah walaupun hanya satu ayat. Aktivitas Rasulullah saw adalah berdakwah (berbicara) untuk memberikan pemahaman pada masyarakat pada saat itu.

Sementara Yani Andriesti Fily dari IMM FISIP UMSU menanyakan, “Bagaimana cara menegakkan daulah Islam tanpa digerakkan oleh orang-orang, serta pancasila dalam sila pertama bukankah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan mengapa HTI mengatakan ideologi hanya 3?”

Ustadzah Rinie Elmaya menjawab bahwa dalam menegakkan daulah Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah, tidak sendiri tetapi bersama dengan ummat, dan pancasila bukan sebuah ideologi tetapi sebuah falsafah.
“Sesuatu dikatakan ideologi jika memiliki fikrah (akidah) dan thariqah (metode), sehingga yang dapat dikatakan sebagai ideologi hanyalah Kapitalisme, Sosialisme dan Islam yang ada di dunia saat ini,” ungkapnya.

Indah Artika dari HMI UNIMED bertanya, “Sudah sampai pada tahap manakah perjuangan pejuang Khilafah ini dan jika sudah tegak, siapakah pemimpinya?”

Ustadzah Rinie menjawab bahwa penegakkan khilafah bukan hanya kewajiban HTI tetapi semua kaum muslimin. “Untuk tahapan selama saya berjuang dengan HTI, Alhamdulillah sudah pada tahapan pembinaan dan interaksi, tinggal tahap meraih kekuasaan dengan sistem Islam yaitu bersama umat menegakkan Khilafah. Serta siapa yang menjadi pemimpin harus memenuhi 7 kriteria yaitu pemimpin Islam, laki-laki, berakal, baligh, mampu, adil, independen dan lebih baik lagi jika ia merupakan seorang mujtahid,” pungkasnya.

Agenda round table discussion ditutup dengan doa yang dibacakan oleh Murniati dari UMN. Acara ini bertujuan untuk menyatukan visi kepada para aktivis dengan jalur penegakan Khilafah yang bisa mewujudkan aksi bela rakyat dengan sebenarnya.

 

sumber : utamanews.com

 

Baca tulisan yang lain : Kasihan HTI, Sampai Sekarang Belum Nemu Khalifahnya

Kolom Komentar

comments